HOTNEWS.ID - Pertumbuhan signifikan deposito valuta asing (valas) yang mencapai 18,9% secara tahunan pada April 2026 menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap ketersediaan likuiditas rupiah di perbankan nasional. Data Analisis Uang Beredar Bank Indonesia (BI) menunjukkan tren ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan deposito rupiah yang hanya mencapai 2,8% YoY pada periode yang sama.

Perkembangan ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat dan korporasi dalam menyimpan aset keuangan mereka, terutama dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah belakangan ini. Pertumbuhan deposito valas yang signifikan ini terjadi seiring dengan melambatnya pertumbuhan deposito rupiah dari 3,7% YoY pada Maret menjadi 2,8% YoY di bulan April.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, menilai bahwa kenaikan tajam deposito valas tersebut mencerminkan peningkatan minat menyimpan dana dalam dolar AS, namun perlu disikapi dengan hati-hati. Menurutnya, fenomena ini bukanlah indikasi kepanikan terhadap sistem perbankan nasional, melainkan respons rasional terhadap pelemahan rupiah dan upaya lindung nilai.

"Ketika rupiah melemah, simpanan dolar AS menjadi lebih menarik karena nilainya naik jika dihitung dalam rupiah,” kata Josua kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (16/6/2026), menjelaskan daya tarik dolar saat rupiah terdepresiasi.

Josua menduga bahwa korporasi, khususnya yang memiliki transaksi impor atau utang luar negeri, menjadi pendorong utama peningkatan deposito valas. Segmen ini cenderung menahan dolar AS untuk memastikan kecocokan antara penerimaan dan kewajiban valas mereka.

Selain korporasi, rumah tangga menengah atas juga turut berkontribusi dalam tren ini sebagai sarana menjaga nilai kekayaan di tengah kekhawatiran pelemahan nilai tukar rupiah lebih lanjut. Hal ini mengubah fokus penyimpanan dana dari sekadar mengejar imbal hasil bunga menjadi upaya menjaga nilai aset dan mitigasi risiko kurs.

Josua mengingatkan bahwa angka pertumbuhan deposito valas juga dipengaruhi oleh faktor pencatatan nilai dalam rupiah, yang otomatis membuat nilai simpanan dolar terlihat lebih besar saat rupiah melemah. Oleh karena itu, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya berasal dari perpindahan dana baru secara masif dari rupiah ke dolar AS.

Meskipun demikian, tren peningkatan deposito valas tetap memerlukan perhatian karena berpotensi memengaruhi likuiditas rupiah perbankan. Josua menjelaskan bahwa apabila terjadi perpindahan dana rupiah secara signifikan ke deposito valas, pasokan dana rupiah di bank akan berkurang.

"Dampaknya, bank bisa menghadapi tekanan untuk menaikkan bunga deposito rupiah agar nasabah tetap menempatkan dana dalam rupiah," ujar Josua, menggarisbawahi potensi kenaikan biaya dana perbankan.