HOTNEWS.ID - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) telah mengambil langkah strategis untuk mengakselerasi transformasi bisnisnya melalui sebuah akuisisi signifikan. Aksi korporasi ini melibatkan pengambilalihan portofolio kredit pensiunan milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk. senilai total Rp12,58 triliun.
Aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi BBTN untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu besar pada segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Langkah ini juga bertujuan untuk memperkuat pertumbuhan di segmen consumer lending yang dinilai menawarkan margin keuntungan yang lebih menarik bagi perseroan.
Transaksi pengambilalihan ini secara resmi telah diselesaikan pada tanggal 29 Juni 2026. Penyelesaian ini ditandai dengan penandatanganan akta pengalihan atau cessie antara BTN dan SMBC Indonesia.
Nilai transaksi akuisisi mencapai Rp12,58 triliun, yang mana angka ini setara dengan 34,7% dari total ekuitas BTN per akhir tahun 2025. Karena nilainya yang substansial, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Objek utama yang diakuisisi mencakup portofolio kredit yang memiliki kolektibilitas baik, yaitu kolektibilitas 1 dan 2. Portofolio ini mayoritas terdiri dari kredit yang disalurkan kepada pensiunan dan pra-pensiunan, khususnya yang terkait dengan TASPEN.
Manajemen BTN menegaskan bahwa akuisisi ini merupakan bagian dari peta jalan jangka panjang perusahaan untuk memperluas cakupan portofolio pembiayaan di luar bisnis inti mereka, yaitu pembiayaan perumahan. Perseroan berambisi untuk memperkuat bisnis konsumer agar tidak lagi hanya dikenal sebagai bank spesialis KPR.
"Manajemen BTN menyatakan aksi korporasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas portofolio pembiayaan di luar bisnis utama pembiayaan perumahan," demikian disampaikan manajemen BTN.
Selain itu, transaksi ini diproyeksikan membawa perbaikan signifikan pada indikator kinerja keuangan perseroan. "Hingga akhir 2026, BTN memperkirakan akuisisi tersebut akan meningkatkan net interest margin (NIM) sebesar 0,10%, menaikkan return on assets (RoA) 0,14%, return on equity (RoE) 1,8%, sekaligus menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 0,11%," ungkap manajemen.
Proyeksi keuangan juga menunjukkan bahwa rasio Pendanaan Berdasarkan Dana Pihak Ketiga (LDR) diproyeksikan akan tetap stabil, berada di kisaran 95,68% setelah akuisisi.