HOTNEWS.ID - Sektor bisnis semen di Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan menjelang pertengahan tahun 2026. Penguatan ini terlihat dari catatan penjualan nasional yang berhasil mencatatkan kenaikan mendekati angka dua digit selama lima bulan pertama tahun tersebut.

Peningkatan performa ini secara langsung memberikan dampak positif terhadap prospek kinerja perusahaan-perusahaan besar di industri ini. Emiten unggulan seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) diproyeksikan akan menikmati hasil yang lebih baik pada paruh kedua tahun 2026.

Data menunjukkan bahwa volume penjualan semen nasional selama periode Januari hingga Mei 2026 telah mencapai angka 24,39 juta ton. Angka ini merupakan sebuah lonjakan yang cukup substansial jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Secara rinci, pertumbuhan volume penjualan tersebut tercatat sebesar 9,6% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan ini menggarisbawahi adanya peningkatan permintaan yang berkelanjutan di pasar domestik sepanjang lima bulan pertama 2026.

Sebagai perbandingan historis, total penjualan semen nasional pada rentang Januari-Mei 2025 hanya mencapai 22,26 juta ton. Kenaikan hampir dua digit ini menandakan adanya akselerasi yang cukup kuat dalam sektor konstruksi dan infrastruktur.

Informasi mengenai data penjualan dan proyeksi kinerja emiten ini diperoleh berdasarkan pengumpulan data dari perusahaan terkait serta analisis yang dilakukan oleh Mirae Asset Sekuritas Indonesia Research. Semua data ini dikumpulkan dan dirilis pada hari Kamis, tanggal 2 Juli 2026.

"Prospek kinerja emiten-emiten seperti Semen Indonesia (SMGR) dan Indocement (INTP) membaik pada paruh kedua 2026," demikian disampaikan dalam pemaparan analisis tersebut.

Dilansir dari Bisnis.com, disebutkan bahwa penjualan semen nasional melanjutkan penguatan pada Mei 2026. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa permintaan agregat di sektor bahan bangunan terus meningkat seiring berjalannya waktu.

"Penjualan semen nasional pada Januari-Mei 2026 sebesar 24,39 juta ton, naik 9,6% year on year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama 2025 sebesar 22,26 juta ton," menurut data yang dihimpun oleh Mirae Asset Sekuritas Indonesia Research.