HOTNEWS.ID - Perkembangan signifikan dalam hubungan diplomatik internasional terjadi setelah pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) membeberkan rancangan Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian dengan Republik Islam Iran. Informasi ini memberikan gambaran awal mengenai kerangka kerja negosiasi damai yang tengah berlangsung antara kedua negara.
Dokumen draf yang dibacakan oleh pejabat tersebut diketahui memuat total 14 pasal atau butir kesepakatan yang menjadi fokus utama dalam upaya mencapai gencatan senjata atau perdamaian. Jumlah poin ini mengindikasikan cakupan pembahasan yang cukup luas dalam nota kesepahaman tersebut.
Detail mengenai waktu penandatanganan draf kesepahaman ini masih belum ditetapkan secara spesifik dalam pengumuman yang disampaikan. Pejabat AS hanya mengindikasikan kerangka waktu umum terkait kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak.
"Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah sepakat bersama dengan itikad baik pada (tanggal yang belum ditentukan)," kata pejabat tersebut, dilansir AFP, Kamis (18/6/2026).
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa proses kesepakatan ini didasarkan pada niat baik dari kedua belah pihak yang terlibat dalam perundingan intensif tersebut. Penetapan tanggal yang belum pasti menunjukkan bahwa negosiasi masih memerlukan finalisasi lebih lanjut.
Pengungkapan draf MoU ini merupakan langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama ini membayangi hubungan bilateral antara Washington dan Teheran. Adanya 14 butir kesepakatan menunjukkan adanya kemajuan substansial dalam dialog mereka.
Informasi mengenai keberadaan draf kesepahaman ini pertama kali diungkapkan kepada publik melalui pernyataan resmi dari delegasi keamanan Amerika Serikat. Hal ini menjadi tonggak baru dalam dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari AFP, narasi mengenai kesepakatan bersama dengan itikad baik ini disampaikan langsung oleh pejabat senior AS yang terlibat dalam proses perundingan tersebut. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis, 18 Juni 2026.