HOTNEWS.ID - Fenomena iklim El Nino diperkirakan akan kembali hadir pada periode 2026 hingga 2027. Kemunculan kembali fenomena ini berpotensi besar memicu peningkatan permintaan listrik, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan sistem pendingin udara atau AC.
Peningkatan kebutuhan listrik ini menjadi perhatian serius karena dapat menambah tekanan yang signifikan terhadap sistem kelistrikan yang sudah ada, terutama saat beban puncak penggunaan listrik terjadi.
International Energy Agency (IEA) telah mengamati tren peningkatan penggunaan AC sejak terjadinya El Nino pada periode 2023-2024. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan dalam penggunaan AC di berbagai negara.
"Pada 2024, jumlah hari dengan penggunaan AC di China dan Eropa meningkat sekitar 25% dibandingkan 2020, sedangkan Jepang dan Korea Selatan mencatat kenaikan lebih dari 50%," demikian catatan IEA.
Gelombang panas yang dipicu oleh El Nino diperkirakan akan mendorong konsumsi listrik untuk pendinginan melalui dua mekanisme utama. Pertama, peningkatan penggunaan AC yang sudah terpasang akibat suhu yang semakin ekstrem.
Kedua, gelombang panas yang berkepanjangan juga mendorong masyarakat untuk membeli unit AC baru, sehingga tingkat kepemilikan perangkat pendingin ini akan meningkat secara permanen.
"El Nino dapat memicu gelombang panas dan berpengaruh terhadap pemakaian AC dalam dua aspek. Pertama, fenomena ini menaikkan utilisasi pada AC yang sudah ada karena panas yang lebih ekstrem akan membuat lebih banyak konsumen memakainya, bahkan pada kelompok yang rentan terhadap biaya," demikian kutipan dari analisis IEA.
Dalam skenario kebijakan yang berlaku saat ini, IEA memproyeksikan adanya penambahan permintaan listrik untuk sistem pendingin sebesar 600 terawatt-hour (TWh) hingga tahun 2035. Angka ini setara dengan total konsumsi listrik tahunan dari Jepang dan Korea Selatan.
Namun, jika El Nino pada 2026-2027 berkembang menjadi peristiwa yang kuat dan pola gelombang panas serupa terjadi setiap tiga tahun, proyeksi penambahan permintaan listrik bisa meningkat menjadi sekitar 700 TWh hingga 2035.