HOTNEWS.ID - Realisasi investasi di sektor hilirisasi bauksit Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah mencatat angka tertinggi. Hal ini menandakan pergeseran dominasi dari komoditas nikel yang sebelumnya menjadi primadona dalam investasi pengolahan mineral.
Sektor bauksit kini menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada triwulan II tahun 2026. Total realisasi investasi yang dicapai mencapai Rp40,1 triliun, sebuah lompatan signifikan.
Angka investasi bauksit tersebut melonjak drastis sebesar 193% jika dibandingkan dengan realisasi pada triwulan I tahun 2026 yang tercatat sebesar Rp13,7 triliun. Kenaikan ini menjadi sorotan utama dalam perkembangan ekonomi Indonesia.
Secara rinci, sektor nikel menyusul di posisi kedua dengan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun. Diikuti oleh tembaga yang mencapai Rp16,7 triliun, serta besi baja dengan Rp13,2 triliun.
Komoditas lain yang juga menunjukkan kontribusi signifikan dalam investasi hilirisasi meliputi pasir silika senilai Rp4 triliun, serta berbagai komoditas lain seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang yang secara kolektif mencapai Rp4,7 triliun.
Menanggapi capaian ini, Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menyambut baik tren positif investasi hilirisasi bauksit. Beliau menekankan pentingnya menjaga konsistensi peningkatan investasi demi manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.
"Terkait capaian ini perlu diapresiasi. Meski begitu, tren ini jangan hanya bersifat sementara tapi harus konsisten dan bila perlu bisa ditingkatkan," ujar Eddy Soeparno.
Lebih lanjut, Eddy Soeparno menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi juga harus dibarengi dengan manfaat yang adil bagi daerah penghasil sumber daya alam. Pembagian manfaat yang merata menjadi kunci utama dalam kesinambungan pembangunan.
"Misalnya, dana bagi hasil untuk daerah jangan dipotong atau dihutangi terus serta berikan hak daerah sesuai undang-undang yang berlaku," tegas Eddy Soeparno.