HOTNEWS.ID - Perkembangan diplomasi di kawasan Timur Tengah mendapat sorotan serius dari Ankara. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyampaikan pandangannya mengenai syarat utama keberhasilan setiap upaya perdamaian di wilayah tersebut.

Erdogan secara spesifik menyoroti potensi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran. Ia menekankan bahwa keberhasilan negosiasi besar tersebut sangat bergantung pada dukungan aktif dari negara-negara sekitarnya.

Hal ini disampaikan oleh Erdogan dalam sebuah pertemuan bilateral yang penting di Istanbul. Pertemuan tersebut mempertemukan dirinya dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, untuk membahas isu-isu regional.

Dalam pertemuan tersebut, muncul peringatan keras yang ditujukan kepada Israel. Turki menggarisbawahi pentingnya negara tersebut untuk tidak mengambil langkah yang dapat mengganggu atau menggagalkan tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Dilansir AFP, Minggu (5/7/2026), pernyataan tegas ini mencerminkan posisi Turki yang ingin melihat stabilitas kawasan terwujud melalui jalur dialog inklusif. Waktu penyampaian peringatan ini menjadi penanda penting dalam dinamika politik Timur Tengah saat itu.

Erdogan menekankan filosofi dasar dalam membangun perdamaian jangka panjang. Menurutnya, fondasi perdamaian yang kokoh tidak akan tercapai tanpa adanya keterlibatan aktif dari aktor-aktor regional.

"Tidak ada solusi yang dapat bertahan lama jika tidak didasarkan pada kehendak dan kontribusi negara-negara di kawasan ini," kata Erdogan.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa solusi damai yang dipaksakan dari luar tanpa mempertimbangkan kepentingan dan kontribusi negara-negara Timur Tengah cenderung rapuh. Hal ini menjadi prinsip utama yang diusung Turki dalam diplomasi kawasan.

Dilansir dari AFP, keterangan mengenai pertemuan dan peringatan ini disampaikan kepada publik pada hari Minggu, tanggal 5 Juli 2026. Momen ini memperkuat peran Turki sebagai mediator potensial di kawasan yang sensitif tersebut.