HOTNEWS.ID - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyampaikan peringatan penting mengenai proyeksi kebutuhan pangan nasional yang akan mengalami peningkatan signifikan. Hal ini sejalan dengan target Indonesia Emas 2045, di mana jumlah penduduk diprediksi akan terus bertambah.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, memperkirakan bahwa populasi Indonesia pada tahun 2045 akan mencapai sekitar 350 juta jiwa. Angka ini sangat substansial dan berpotensi membuat Indonesia melampaui jumlah penduduk Amerika Serikat yang saat ini berkisar 315 juta jiwa.

Taruna Ikrar menjelaskan tantangan yang dihadapi, "Indonesia sampai dengan tahun 2045 masa emas kita, Indonesia akan memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Itu diperkirakan 350 juta. Kan besar sekali, boleh jadi kita akan salip Amerika Serikat yang sekarang cuma 315 juta penduduknya, dengan tingkat kelahiran di sana cuma 0,6%," katanya dalam Seminar Nasional bertajuk Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food di Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).

Pertumbuhan populasi yang pesat ini secara langsung berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan pasokan pangan. Namun, pemenuhan kebutuhan pangan tersebut tidak dapat sepenuhnya bergantung pada ketersediaan lahan yang ada.

"Indonesia pasti akan membutuhkan pangan yang banyak. Nah, untuk mencapai kebutuhan pangan tadi tentu tidak semata-mata dari lahan kita yang terbatas," ujar Taruna Ikrar. Ia menambahkan bahwa meskipun Indonesia memiliki garis pantai yang luas dan ribuan pulau, tidak semua lahan dapat dimanfaatkan untuk pertanian.

Di sisi lain, penyediaan pangan di masa depan akan semakin kompleks akibat berbagai faktor global. Dinamika geopolitik dan perubahan iklim menjadi ancaman yang dapat memengaruhi ketersediaan pangan secara luas.

Potensi fenomena iklim ekstrem seperti El Nino, yang diprediksi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), juga menambah daftar tantangan. Hal ini dikhawatirkan akan semakin memperbesar kesulitan dalam sektor pangan nasional.

Selain tantangan ketersediaan, Indonesia juga masih bergulat dengan persoalan beban gizi yang tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya masalah gizi pada sebagian besar anak-anak Indonesia.

Taruna Ikrar memaparkan temuan BPS, "sekitar 80% anak-anak Indonesia masih menghadapi persoalan gizi, terdiri atas 19,8% mengalami stunting, sekitar 40% mengalami defisiensi mikronutrien, dan 20% lainnya mengalami kelebihan berat badan (overweight)." Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya kualitas gizi selain kuantitas pangan.