HOTNEWS.ID - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Lestari Moerdijat, secara tegas menyampaikan perlunya upaya konkret untuk membangun mekanisme penguatan dan penanganan kesehatan jiwa di kalangan anak-anak. Langkah ini krusial demi mewujudkan generasi penerus bangsa yang memiliki daya saing tinggi.
"Dibutuhkan langkah nyata bersama dalam mewujudkan generasi penerus yang berdaya saing dengan mendorong agar kesehatan jiwa/mental anak mendapat perhatian serius semua pihak," demikian pernyataan Lestari Moerdijat dalam keterangannya pada Minggu, 12 Juli 2026.
Fokus pada kesehatan mental anak ini dilatarbelakangi oleh temuan data yang mengkhawatirkan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hasil skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dirilis pada Januari 2026 menunjukkan adanya indikasi gejala depresi pada sebagian anak Indonesia.
Secara spesifik, data tersebut mencatat bahwa sebanyak 4,8% dari total anak usia 7 hingga 17 tahun terindikasi memiliki gejala depresi. Angka ini setara dengan sekitar 363.326 anak yang membutuhkan perhatian lebih.
"Dibutuhkan langkah nyata bersama dalam mewujudkan generasi penerus yang berdaya saing dengan mendorong agar kesehatan jiwa/mental anak mendapat perhatian serius semua pihak," ujar Lestari Moerdijat.
Kondisi ini menuntut kesadaran dan tindakan kolektif dari berbagai elemen masyarakat. Perhatian serius terhadap kesehatan mental anak menjadi fondasi penting dalam membentuk individu yang tangguh dan mampu berkontribusi optimal di masa depan.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan menjadi salah satu instrumen penting dalam memetakan kondisi kesehatan anak-anak di Indonesia. Data yang dihasilkan dari program ini memberikan gambaran objektif mengenai tantangan yang dihadapi.
Skrining yang dilakukan pada Januari 2026 ini mengindikasikan bahwa isu kesehatan mental pada anak bukanlah hal yang dapat diabaikan. Angka 4,8% yang terindikasi depresi merupakan sinyal perlunya intervensi yang lebih masif dan terstruktur.
Dikutip dari Kemenkes, sebanyak 4,8% atau sekitar 363.326 anak usia 7-17 tahun terindikasi memiliki gejala depresi.