HOTNEWS.ID - Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026 baru saja usai, dan kejutan besar datang dari kontingen Provinsi Banten. Meskipun hanya membawa kekuatan yang sangat minimalis, tim Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Perwakilan Pusat (Perwapus) Banten berhasil mencatatkan prestasi luar biasa.

Total hanya tujuh atlet yang diberangkatkan mewakili Banten dalam ajang bergengsi ini. Hasilnya melebihi ekspektasi, di mana ketujuh pesilat tersebut sukses meraih medali dari setiap kategori yang mereka ikuti dalam kompetisi tersebut.

Pelatih kontingen Banten, Edwin Saputra, mengungkapkan bahwa ketujuh atlet tersebut berhasil membawa pulang total enam medali emas dan satu medali perak. Ini merupakan capaian gemilang mengingat jumlah personil yang sangat terbatas.

"Kami hanya mengirim sedikit atlet karena kuota yang kami dapatkan memang sangat mepet. Tapi alhamdulillah, dari tujuh orang yang berangkat, semuanya berhasil juara," ujar Edwin Saputra.

Seluruh atlet Banten yang berpartisipasi dalam ajang ini dikerahkan untuk bertanding secara eksklusif pada kategori seni. Kategori seni ini memerlukan penilaian ketat terhadap kesempurnaan koreografi, ketahanan fisik, dan kekuatan mental atlet di hadapan dewan juri.

Edwin menjelaskan fokus utama persiapan timnya adalah mengasah aspek fundamental yang sangat krusial dalam kategori seni. Menurutnya, penilaian juri sangat bergantung pada kualitas penampilan teknis dan mental atlet di atas gelanggang.

"Fokus kami terutama pada mental, fisik, dan juga gerakan. Karena dalam kategori seni, poin utama yang dilihat oleh juri adalah kebenaran jurus dan kemantapan gerak atlet saat tampil," ucap Edwin Saputra.

Salah satu bintang yang bersinar adalah Mutiara Eka Nur Jannah (18), pesilat remaja asal Kota Tangerang yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA. Mutiara berhasil mempersembahkan medali emas di kelas prestasi remaja.

"Kemarin itu aku sudah main di kelas remaja untuk kategori prestasi. Alhamdulillah, berkat latihan keras bisa dapat juara satu juga," ucap Mutiara Eka Nur Jannah kepada CNN Indonesia pada Minggu (28/6).