HOTNEWS.ID - PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) menghadapi tantangan finansial pada paruh pertama tahun 2026, ditandai dengan lonjakan rugi bersih yang signifikan. Kondisi ini dipicu oleh peningkatan beban pokok pendapatan yang menggerus profitabilitas perusahaan.

Pada akhir Juni 2026, emiten produsen beton pracetak ini membukukan rugi bersih periode berjalan sebesar Rp285,59 miliar. Angka ini menunjukkan pembengkakan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, semester I/2025, yang mencatat rugi bersih Rp236,88 miliar.

Meskipun demikian, dari sisi pendapatan usaha, WSBP sebenarnya mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Pendapatan usaha tercatat naik 10,29% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp808,06 miliar pada semester I/2026, melampaui realisasi Rp732,65 miliar pada tahun sebelumnya.

Namun, kenaikan pendapatan ini tidak mampu menutupi lonjakan beban pokok pendapatan yang meroket 19,44% YoY. Beban pokok pendapatan mencapai Rp717,99 miliar pada semester I/2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp601,14 miliar pada Juni 2025.

Akibatnya, laba kotor WSBP mengalami penurunan drastis sebesar 31,51% YoY menjadi Rp90,07 miliar. Angka ini merosot dari laba kotor Rp131,50 miliar yang tercatat pada semester I/2025. Tekanan terhadap kinerja keuangan semakin terasa dengan kenaikan beban keuangan.

Beban keuangan perseroan tercatat merangkak naik menjadi Rp155,44 miliar pada paruh pertama 2026. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan Rp142,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, menambah beban operasional perusahaan.

Koreksi performa laba rugi ini turut berdampak pada neraca keuangan atau balance sheet perseroan, yang mengindikasikan adanya pengetatan likuiditas. Jumlah aset Waskita Beton per Juni 2026 terpantau menyusut menjadi Rp2,91 triliun, menurun dari Rp3,05 triliun pada akhir Desember 2025.

Penurunan aset ini sejalan dengan posisi kas dan setara kas akhir periode yang menipis menjadi Rp37,71 miliar, dibandingkan dengan Rp49,67 miliar pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, jumlah liabilitas perseroan justru mengalami kenaikan menjadi Rp5,15 triliun pada pertengahan tahun ini, dari Rp5,02 triliun di akhir tahun lalu.

Akibatnya, defisiensi ekuitas WSBP semakin melebar menjadi minus Rp2,24 triliun per Juni 2026. Angka saldo negatif modal ini membengkak dari posisi 2025 yang tercatat minus Rp1,96 triliun, menunjukkan posisi utang yang lebih besar daripada aset.