HOTNEWS.ID - Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Oracle Corporation, baru-baru ini melaksanakan gelombang restrukturisasi yang signifikan, mengakibatkan penyusutan tenaga kerja hingga 21.000 karyawan sepanjang tahun lalu. Langkah ini merupakan bagian dari adaptasi perusahaan terhadap implementasi masif Kecerdasan Artifisial (AI) dalam operasional korporasi.

Berdasarkan dokumen resmi perusahaan yang dikutip dari The Register pada Selasa (23/6/2026), jumlah pegawai Oracle menurun drastis. Pada Juni 2025, perusahaan tercatat mempekerjakan sekitar 162.000 pegawai, namun angka ini merosot menjadi 141.000 pekerja per Juni 2026.

Rincian pemangkasan tersebut menunjukkan bahwa 9.000 staf diputus di wilayah domestik Amerika Serikat, sementara 12.000 staf lainnya tersebar di jaringan operasional internasional perusahaan. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengalihkan fokus sumber daya perusahaan.

Manajemen Oracle mengindikasikan bahwa efisiensi tenaga kerja ini adalah respons yang tak terhindarkan terhadap tuntutan adaptasi teknologi yang cepat. Strategi ini diambil demi menjaga profitabilitas perusahaan di tengah transisi bisnis menuju era digital yang baru.

"Restrukturisasi dan reorganisasi tenaga kerja berkala kami dapat mengganggu. Penerapan teknologi AI di seluruh operasional kami telah menghasilkan dan mungkin terus menghasilkan pengurangan tenaga kerja," tulis Oracle dalam dokumen tahunan tersebut.

Lebih lanjut, manajemen perusahaan memberikan sinyal bahwa kebijakan pengetatan ini mungkin belum berakhir dalam waktu dekat. Dinyatakan bahwa, "Kami mungkin menginisiasi rencana restrukturisasi baru di masa depan," tambah manajemen perusahaan.

Langkah drastis pemutusan hubungan kerja (PHK) ini muncul setelah adanya rumor internal dalam beberapa bulan terakhir. Disinyalir, strategi ini adalah upaya manajemen untuk mengalokasikan anggaran belanja yang besar untuk pembangunan infrastruktur pusat data (datacenter) berbasis AI.

Meskipun kebijakan ini bertujuan menekan beban operasional, Oracle mengakui bahwa pengosongan posisi dalam skala besar membawa risiko tersendiri bagi stabilitas jangka panjang perusahaan. Pengurangan staf dinilai dapat mengganggu ritme kerja tim yang tersisa.

"Restrukturisasi ini juga dapat menyebabkan kekurangan karyawan yang memiliki keahlian memadai dalam peran tertentu, hilangnya pengetahuan institusional yang berharga, serta kerusakan pada moral dan retensi karyawan," papar manajemen.