HOTNEWS.ID - PT Paperocks Indonesia Tbk. (PPRI), emiten yang bergerak di sektor kemasan kertas, menyuarakan optimisme tinggi terkait proyeksi kinerja keuangan pada kuartal kedua tahun 2026. Optimisme ini muncul meskipun industri kemasan nasional menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku plastik dan tekanan regulasi yang semakin kuat untuk beralih ke opsi yang lebih ramah lingkungan.
Optimisme PPRI ini berakar pada pergeseran tren pasar yang mendukung produk berbasis kertas, sejalan dengan dorongan pemerintah untuk melakukan diversifikasi bahan baku kemasan. Saat ini, kemasan fleksibel berbasis plastik masih menguasai sekitar 48% pangsa pasar domestik, namun penggunaan kemasan kertas telah mencapai 28% dan terus menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Menanggapi katalis positif ini, manajemen PPRI telah menetapkan target ambisius untuk periode kuartal II/2026. Perseroan menargetkan nilai penjualan mencapai Rp80,53 miliar, yang merepresentasikan pertumbuhan sebesar 2,7% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain target penjualan, proyeksi laba juga menunjukkan peningkatan yang diharapkan. Laba kotor ditargetkan mencapai angka Rp12,88 miliar, menandai kenaikan sebesar 6,01% secara tahunan.
Sementara itu, proyeksi laba tahun berjalan juga diproyeksikan positif. "Sedangkan untuk laba tahun berjalan, Perseroan memproyeksikan angka senilai Rp1,89 miliar, atau naik sebesar 5,07% dibanding realisasi laba tahun berjalan di periode sama di tahun sebelumnya," ujar Irsyad Hanif dalam pernyataan tertulis yang dikutip pada Minggu (21/6/2026).
Direktur Utama Paperocks, Irsyad Hanif, menjelaskan bahwa pencapaian target tersebut akan didukung oleh strategi multi-aspek. Strategi tersebut mencakup peningkatan kualitas produk dan layanan, pengembangan inovasi produk yang lebih berkelanjutan, serta pelaksanaan ekspansi pasar yang lebih agresif.
Fokus utama PPRI pada pengemasan berbahan dasar kertas dipandang sebagai peluang krusial untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat fondasi bisnis yang berkelanjutan di masa depan. Irsyad menegaskan komitmen perusahaan dalam meningkatkan aspek ramah lingkungan pada setiap produk yang dihasilkan.
"Selain mengandalkan kertas sebagai bahan baku utama yang berasal dari sumber daya terbarukan, perusahaan juga aktif mengembangkan produk berbahan daur ulang," jelas Irsyad Hanif mengenai upaya diversifikasi bahan baku ramah lingkungan yang dilakukan perusahaan.
Prospek bisnis kemasan kertas juga diperkuat oleh ketahanan sektor industri makanan dan minuman nasional yang masih solid. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri makanan dan minuman tercatat mencapai 6,49%, melampaui pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang berada di angka 5,58%.