HOTNEWS.ID - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyuarakan urgensi kepada pemerintah Republik Indonesia agar segera melakukan lobi intensif kepada Amerika Serikat (AS). Tujuan utama lobi ini adalah mengamankan penetapan tarif bea masuk produk alas kaki Indonesia yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara pesaing utama.

Langkah strategis ini dipandang sangat krusial oleh sektor industri alas kaki nasional saat ini. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi domestik dan ketidakpastian yang menyelimuti regulasi perdagangan internasional saat ini.

Sekretaris Jenderal Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, menekankan bahwa fokus pelaku industri bukan sekadar menginginkan tarif yang rendah. Mereka membutuhkan tarif yang secara inheren lebih kompetitif agar mampu mengamankan volume pesanan dari para pembeli internasional.

"Kalau tarifnya sama, persaingan akan terbuka," ujar Yoseph Billie Dosiwoda dalam sebuah pesan singkat yang disampaikan pada Minggu (14/6/2026), menyoroti perlunya diferensiasi tarif.

Billie menjelaskan bahwa pada periode sebelumnya, ketika tarif resiprokal AS berada di level 19%, Indonesia masih menikmati keunggulan kompetitif sekitar 1% dibandingkan rivalnya. Keunggulan tarif ini sempat membantu menjaga stabilitas permintaan ekspor alas kaki Indonesia.

Namun, situasi kini berubah karena Indonesia sedang menjalani investigasi berlapis terkait tuduhan pelanggaran perdagangan, meliputi isu kerja paksa (forced labor) dan kapasitas berlebih (excess capacity). Pemerintah Indonesia memprediksi akumulasi tarif dari kedua investigasi AS ini berpotensi mencapai angka 18%.

Menurut pandangan Billie, Indonesia memiliki landasan kuat untuk memperoleh tarif yang lebih kompetitif. Hal ini didukung oleh adanya Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah berlaku antara kedua negara sejak tanggal 19 Februari 2026.

"Kami tentu berharap kepada pemerintah yang sudah punya ART dapat melakukan lobi dan upaya untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah dari negara pesaing,” tutur Billie, mendorong pemerintah memanfaatkan kerangka kerja sama yang sudah ada.

Industri alas kaki saat ini juga merasakan tekanan signifikan dari pasar domestik, terutama akibat pelemahan daya beli masyarakat. Selain itu, penguatan kurs dolar AS turut memperparah situasi dengan menaikkan biaya bahan baku impor.