HOTNEWS.ID - Mirae Asset Sekuritas memberikan pandangan serius mengenai prospek kinerja laba emiten di Bursa Efek Indonesia ke depan. Mereka memproyeksikan adanya perlambatan kinerja earnings perusahaan tercatat pada periode paruh kedua tahun 2026.

Prediksi ini muncul seiring dengan adanya indikasi pelemahan pada mata uang rupiah yang semakin menguatkan potensi perlambatan laju perekonomian nasional dalam beberapa waktu mendatang.

Head of Research/Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa tren penurunan kinerja fundamental perusahaan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak kuartal kedua tahun 2026.

Menurutnya, momentum belanja besar yang didorong oleh pengeluaran pemerintah dan masyarakat saat perayaan Lebaran 2026 yang jatuh di kuartal pertama tahun tersebut telah usai. Hal ini menjadi salah satu penopang sementara yang kini mulai mereda.

Memasuki semester kedua 2026, perlambatan kinerja emiten diprediksi akan semakin terasa dampaknya, terutama karena adanya faktor suku bunga acuan yang diperkirakan tetap berada pada level yang tinggi selama periode tersebut.

Rully Arya Wisnubroto menjelaskan bahwa dampak stimulus pemerintah yang ditujukan untuk masyarakat kelas bawah mungkin tidak cukup kuat untuk mendorong pemulihan ekonomi secara signifikan. "Secara seasonal mungkin sudah enggak ada. Terus yang coba ditopang oleh pemerintah melalui stimulus, ini kan lebih ditargetkan ke masyarakat bawah untuk menopang aja sebenarnya. Cuma untuk impact ke ekonomi untuk bisa rebound, saya kira agak susah," katanya saat ditemui di Jakarta pada hari Selasa (30/6/2026).

Menyikapi proyeksi perlambatan tersebut, Mirae Asset kini tengah melakukan kajian mendalam untuk merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2026. Mereka sedang mengevaluasi kembali proyeksi pasar saham menyusul sentimen negatif yang mulai terakumulasi.

Rully menambahkan bahwa pasar saat ini sudah mencerminkan berbagai risiko yang ada, termasuk kenaikan suku bunga dan potensi perlambatan kinerja emiten. "Target sudah kami review. Sebagian besar [sentimen] memang sudah priced in, kenaikan suku bunga, kemudian potensi slow down, potensi adanya earnings yang akan melambat dari sisi emiten," tutur Rully.

Selain pasar saham, pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai menjadi tantangan terbesar yang menghambat laju pasar Surat Berharga Negara (SBN) Republik Indonesia. Bahkan, fenomena inverted yield curve yang sempat mengancam pasar SBN bisa kembali terjadi jika rupiah terus bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.