HOTNEWS.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dengan potensi pelemahan pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026. Perkiraan rentang pergerakan rupiah berada di kisaran Rp18.090 hingga Rp18.140 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Selasa (14/7), mata uang Garuda tercatat menguat tipis sebesar 0,10% atau setara dengan 18 poin, mencapai level Rp18.091 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) mengalami pelemahan sebesar 0,08% dan bertengger di posisi 101,15.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Peningkatan ketegangan ini menyebabkan penguatan rupiah yang sempat terjadi pada perdagangan intraday tergerus menjelang penutupan.
Dalam perkembangan terbarunya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Kebijakan yang mulai berlaku Selasa waktu setempat ini secara spesifik menargetkan lalu lintas kapal yang terafiliasi dengan Iran.
Selain blokade laut, pemerintah Amerika Serikat juga akan memberlakukan pungutan sebesar 20% terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini diambil untuk menutup biaya pengamanan jalur vital tersebut.
"Investor tetap khawatir bahwa eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global," ujar Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi pada Selasa (14/7/2026).
Ibrahim Assuaibi juga menambahkan bahwa kenaikan harga minyak mentah berpotensi memberikan tekanan pada pasar keuangan global. Hal ini dapat menyebabkan pelemahan pasar saham sekaligus meningkatkan kekhawatiran inflasi di tengah perhitungan dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan bank sentral.
Menyikapi potensi inflasi, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bahwa bank sentral Amerika Serikat perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila inflasi konsumen (CPI) menunjukkan tren peningkatan kembali.
Sementara itu, dari dalam negeri, pasar merespons positif keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia. Peringkat Indonesia tetap berada pada level BBB dengan outlook stabil, seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi yang solid.