HOTNEWS.ID - Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah resmi memberikan izin kepada SpaceX untuk melanjutkan uji terbang prototipe roket raksasa mereka, Starship. Persetujuan ini datang setelah perusahaan milik Elon Musk berhasil mengidentifikasi akar masalah kegagalan pada tahap pendorong (booster stage) dalam uji coba sebelumnya pada Mei lalu.
Melansir dari Techcrunch, Selasa (14/7/2026), SpaceX mengumumkan bahwa peluncuran Starship berikutnya dapat dilaksanakan paling cepat pada Kamis, 16 Juli. Misi ini akan menjadi penerbangan kedua untuk Starship versi ketiga (V3). Berbeda dengan misi sebelumnya yang hanya membawa simulator, kali ini Starship V3 akan mengangkut 20 unit satelit internet Starlink generasi ketiga (V3) pertama ke luar angkasa.
Agenda peluncuran ini menjadi uji terbang kedua bagi sistem Starship, sekaligus menandai debutnya sebagai perusahaan publik. Langkah ini juga akan menguji respons pasar terhadap pendekatan pengembangan roket SpaceX yang dikenal dengan jargon "fly, fail, fix" atau terbang, gagal, lalu perbaiki.
Metode eksperimental yang seringkali berakhir dengan ledakan besar di udara, atau yang diistilahkan oleh CEO Elon Musk sebagai "rapid unscheduled disassembly," telah menjadi ciri khas SpaceX. Hal ini menunjukkan keberanian perusahaan dalam inovasi.
Pada uji coba perdana Starship V3 tanggal 22 Mei lalu, roket setinggi 407 kaki tersebut sebenarnya mencatat banyak keberhasilan teknis. Pendorong Super Heavy sukses mengangkat roket ke antariksa sebelum akhirnya muatan simulator dilepaskan.
Kendati demikian, booster generasi ketiga yang dijadwalkan melakukan simulasi pendaratan di Teluk Meksiko justru mengalami kegagalan fungsi. Hal ini disebabkan oleh mesin yang tidak menyala kembali secara sempurna, hingga akhirnya jatuh terhempas ke laut.
Investigasi bersama antara SpaceX dan FAA menyimpulkan bahwa permasalahan terjadi tepat saat proses pemisahan booster. Manajemen SpaceX menjelaskan bahwa variasi kecil pada saat penyalaan mesin menyebabkan booster berputar 90 derajat ke arah yang salah.
Menanggapi temuan tersebut, modifikasi pada urutan penyalaan mesin dan peningkatan reliabilitas penyalaan ulang telah diterapkan oleh SpaceX. Upaya ini diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa.
Di sisi lain, FAA menyatakan bahwa akar penyebab paling mungkin dari kegagalan fungsi pendorong Super Heavy adalah "efek panas pada komponen sistem propulsi selama kenaikan [roket] dan pengaturan sistem alarm mesin yang keliru." Pernyataan ini menegaskan pentingnya analisis mendalam terhadap setiap kegagalan.