HOTNEWS.ID - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara tegas mendorong percepatan hilirisasi industri farmasi nasional. Langkah ini dipandang sebagai strategi vital untuk membantu pemerintah mencapai target ambisius pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.

Strategi ini muncul karena masalah fundamental belanja kesehatan nasional selama ini. Besarnya alokasi dana kesehatan belum mampu memberikan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian domestik.

Permasalahan utamanya adalah ketergantungan tinggi pada produk impor. Mayoritas anggaran kesehatan masih terserap untuk pembelian obat-obatan, bahan baku farmasi, hingga alat kesehatan dari luar negeri.

Akibatnya, nilai tambah ekonomi dan terciptanya lapangan kerja baru justru dinikmati oleh negara-negara produsen. Hal ini kontras dengan besarnya belanja kesehatan yang terus meningkat setiap tahun di Indonesia.

"Kita berdua [bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan] sangat percaya bahwa target 8% itu harus mati-matian dikejar sesegera mungkin," ujar Budi Gunadi Sadikin.

Budi menambahkan bahwa penundaan dalam reformasi sektor ini dapat menyebabkan kerugian besar bagi masa depan bangsa. "Karena kalau enggak kita kehilangan window of opportunity pada saat puncak bonus demografi kita dan kita akan kehilangan kesempatan untuk bisa jadi negara maju yang income-nya 14.000 dolar GNI per kapita," tegasnya.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Kesehatan dalam konferensi pers yang diadakan di sela-sela acara Building Regional and Global Health Resilience in Asean: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response (PPR) pada Rabu (24/6/2026).

Untuk mengubah tren tersebut, Menkes menegaskan perlunya pembangunan rantai pasok industri farmasi yang terintegrasi penuh di dalam negeri. Integrasi ini harus mencakup seluruh tahapan, mulai dari bahan baku hingga produk jadi, agar belanja kesehatan dapat berkontribusi langsung pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagai ilustrasi, dia mencontohkan kasus produksi parasetamol yang belum terintegrasi secara utuh. Meskipun Indonesia mampu memproduksi benzena sebagai bahan dasar, tahapan hilirisasi selanjutnya hingga menjadi parasetamol masih belum tersedia secara domestik.