HOTNEWS.ID - Pada perdagangan hari Rabu, 24 Mei 2026, nilai tukar rupiah menghadapi tekanan signifikan saat dibuka di pasar keuangan. Mata uang Garuda tersebut tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tren penguatan global mata uang greenback.

Secara spesifik, rupiah dibuka melemah sebesar 69 poin atau setara dengan 0,39% dari penutupan sebelumnya. Posisi rupiah tergelincir hingga mencapai level Rp17.928 per dolar AS pada pembukaan sesi perdagangan tersebut.

Sementara itu, indeks dolar AS menunjukkan kinerja yang berlawanan, terpantau menguat tipis sebesar 0,01% dan berada di level 101,41. Penguatan dolar AS ini turut memberikan beban tambahan terhadap mata uang di kawasan Asia lainnya.

Mayoritas mata uang regional Asia juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS pada pembukaan hari itu. Yen Jepang terdepresiasi 0,02%, sementara won Korea Selatan melemah lebih dalam sebesar 0,13%.

Ringgit Malaysia dan baht Thailand turut mengalami tekanan depresiasi terhadap dolar AS. Ringgit terlihat melemah 0,10%, sedangkan baht Thailand mencatat pelemahan paling signifikan di antara mata uang yang disebutkan, yakni sebesar 0,44%.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi pergerakan rupiah untuk sepanjang hari perdagangan tersebut. Menurutnya, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang terbatas antara Rp17.850 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Proyeksi tersebut didasarkan pada tren perdagangan sebelumnya, di mana rupiah ditutup pada posisi yang lebih lemah, yakni melemah 16 poin ke level Rp17.859. Proyeksi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif masih mendominasi pergerakan rupiah.

Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa faktor eksternal menjadi pendorong utama penguatan dolar AS saat ini. "Indeks dolar AS terpantau menguat setelah Washington mengeluarkan izin umum 60 hari yang memungkinkan penjualan, pengiriman, dan impor minyak mentah dari Iran," ujar Ibrahim.

Dari sisi domestik, pelaku pasar di Indonesia kini tengah memfokuskan perhatian pada hasil evaluasi indeks global MSCI. Investor menantikan dampak potensial dari evaluasi tersebut terhadap pasar saham dan mata uang di dalam negeri.