HOTNEWS.ID - Pergerakan harga emas global tengah menjadi sorotan para pelaku pasar, terutama setelah muncul proyeksi ambisius dari lembaga keuangan ternama. Salah satu skenario optimis memprediksi logam mulia ini dapat menyentuh level US$5.200 per ons.
Namun, pencapaian target harga tinggi tersebut ternyata memiliki syarat yang cukup signifikan. Para ahli strategi komoditas di Morgan Stanley telah menggarisbawahi sebuah variabel krusial yang harus terpenuhi dalam beberapa waktu ke depan.
Menurut pandangan mereka, harga emas akan menghadapi kesulitan besar untuk mencapai target ambisius sebesar US$5.200 per ons pada paruh kedua tahun 2026. Hambatan utama ini muncul jika tidak terjadi pemulihan yang nyata pada arus masuk dana investasi di ETF emas.
Hal ini diungkapkan oleh dua analis komoditas senior dari Morgan Stanley dalam sebuah catatan riset yang beredar di kalangan investor. Mereka menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi dinamika permintaan dan penawaran emas di pasar internasional.
Amy Gower dan Martijn Rats secara spesifik menyoroti sensitivitas arus investasi ETF terhadap perubahan ekspektasi suku bunga bank sentral. Meskipun pembelian oleh bank sentral terus berlanjut, sentimen investor ETF jauh lebih rentan terhadap kebijakan moneter global.
"Meskipun pembelian emas oleh bank sentral mungkin akan berlanjut, arus ETF lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga," ujar Amy Gower dan Martijn Rats, menggarisbawahi perbedaan respons pasar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa optimisme terhadap kenaikan harga emas tidak bisa hanya didasarkan pada pembelian institusional oleh otoritas moneter negara. Keterlibatan investor ritel dan institusional melalui instrumen ETF menjadi pendorong vital.
Temuan ini memberikan perspektif penting bagi investor yang memasang taruhan besar pada kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Mereka perlu memantau pergerakan dana keluar-masuk ETF sebagai indikator kesehatan permintaan pasar.
Dilansir dari Bisnis.com, analisis ini disampaikan dari Jakarta, menunjukkan bahwa para analis global tetap memberikan perhatian serius terhadap pasar komoditas Indonesia dan Asia Tenggara.