HOTNEWS.ID - Penyanyi dan presenter ternama asal Korea Selatan, Lee Ji Hye, baru-baru ini menyampaikan kekhawatiran mendalamnya terkait maraknya pemanfaatan citra dirinya dalam berbagai materi iklan daring. Hal ini menjadi sorotan utama setelah ia menyadari bahwa wajahnya telah dimanipulasi secara digital.
Inti permasalahan ini berpusat pada penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang canggih untuk menciptakan iklan-iklan palsu. Teknologi tersebut digunakan untuk mempromosikan produk-produk yang sama sekali tidak didukung atau disetujui oleh Lee Ji Hye.
Kekhawatiran sang selebritas mulai meningkat drastis ketika banyak penggemar yang secara proaktif menghubunginya. Mereka mengirimkan pesan untuk meminta konfirmasi mengenai keabsahan iklan-iklan yang mereka temukan saat berselancar di internet.
Menanggapi banyaknya pertanyaan tersebut, Lee Ji Hye segera melakukan investigasi mandiri untuk melacak asal-usul iklan yang beredar. Hasil penelusuran tersebut mengonfirmasi kecurigaannya mengenai adanya penipuan berbasis citra digital.
Ia secara tegas menyatakan bahwa iklan-iklan yang menampilkan dirinya tersebut tidak memiliki kaitan apapun dengan kerja sama bisnis resmi atau persetujuan apa pun darinya. Hal ini menjadi dasar peringatan publik yang ia sampaikan.
Modus operandi yang digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab ini tergolong canggih dan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini. Mereka secara spesifik menggunakan AI untuk melakukan manipulasi visual yang sangat meyakinkan.
Teknik pemalsuan ini melibatkan penempelan wajah Lee Ji Hye secara digital ke tubuh orang lain dalam materi iklan. Tujuannya adalah untuk menciptakan ilusi bahwa selebritas tersebut merekomendasikan produk kepada khalayak luas.
"Ia mengungkapkan bahwa wajahnya telah dipalsukan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mempromosikan produk-produk yang tidak pernah ia dukung," demikian pernyataan yang disampaikan oleh Lee Ji Hye mengenai situasi yang ia hadapi.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, situasi ini menyoroti meningkatnya risiko penyalahgunaan teknologi deepfake dan AI dalam konteks komersial tanpa izin dari pemilik citra. Kasus ini menjadi contoh nyata perlunya kewaspadaan publik.