HOTNEWS.ID - SM Entertainment, selaku agensi yang menaungi grup idola K-Pop ternama aespa, akhirnya merilis pernyataan resmi terkait perkembangan kasus manipulasi digital yang menimpa dua anggotanya, Karina dan Winter. Kasus ini menyoroti seriusnya ancaman konten palsu berbasis kecerdasan buatan (AI) terhadap reputasi artis.
Apa yang menjadi fokus utama pernyataan resmi agensi adalah penanganan hukum terhadap individu yang bertanggung jawab menyebarkan konten deepfake yang bersifat vulgar dan merugikan citra para artis. Tindakan tegas ini diambil sebagai respons atas pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik.
Insiden bermula ketika sebuah video deepfake yang menampilkan Karina aespa mulai beredar luas pada hari Rabu, 14 Januari 2026. Video manipulatif tersebut dengan cepat menyebar di berbagai media sosial, khususnya platform X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter).
Video palsu tersebut secara spesifik menunjukkan Karina seolah-olah mengenakan busana yang sangat berbeda dari kenyataan, yaitu gaun hitam berkerah rendah yang mengekspos bagian dada. Konten ini sangat kontras dengan penampilan aslinya saat K-Link Festival 2024 yang hanya mengenakan gaun berwarna tosca.
Siapa yang paling vokal menanggapi penyebaran konten ilegal ini adalah komunitas penggemar aespa yang dikenal dengan sebutan MY. Mereka segera bersatu padu dan menuntut agar manajemen mengambil langkah hukum yang cepat dan maksimal.
Kejadian ini bukan merupakan kali pertama bagi Karina maupun anggota aespa lainnya yang harus menghadapi dampak negatif dari konten deepfake serupa yang disebarkan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan adanya pola serangan digital terhadap para idola.
Mengenai keputusan hukum yang telah dijatuhkan kepada pelaku penyebar konten tersebut, terdapat beberapa reaksi dari kalangan penggemar. Ada pihak yang merasa hukuman penjara yang dijatuhkan sudah sesuai, namun ada pula yang menyuarakan keberatan atas keputusan tersebut.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, agensi menyatakan bahwa mereka telah mengambil langkah konkret untuk melindungi hak dan citra artis mereka dari penyalahgunaan teknologi AI. Langkah hukum ini dilakukan untuk memberikan efek jera.
"Kasus ini melibatkan konten manipulasi kecerdasan buatan (AI) yang bersifat vulgar dan telah merugikan citra para artis," demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh SM Entertainment mengenai kasus tersebut.