HOTNEWS.ID - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yaitu Pertamax dan Pertamax Green 95, telah memicu kekhawatiran dari kalangan dunia usaha di Indonesia mengenai potensi tekanan biaya tambahan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) secara khusus mengingatkan bahwa penyesuaian harga ini dapat membebani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kelompok masyarakat kelas menengah.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga BBM kali ini berbeda signifikan dibandingkan dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang terjadi pada bulan April sebelumnya. Perbedaan utama terletak pada sektor yang paling merasakan dampaknya secara langsung.

"Jika sebelumnya kenaikan diesel nonsubsidi lebih banyak memengaruhi biaya logistik dan distribusi industri, kali ini dampaknya diperkirakan lebih terasa pada biaya mobilitas usaha, kendaraan operasional ringan, aktivitas penjualan, distribusi skala kecil, hingga pelaku usaha jasa dan UMKM yang menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin nonsubsidi," ungkap Shinta.

Dalam jangka waktu pendek, peningkatan biaya operasional harian diprediksi akan langsung terasa, terutama bagi entitas bisnis yang mengandalkan mobilitas tinggi dalam menjalankan kegiatannya. Hal ini mencakup berbagai sektor yang membutuhkan pergerakan konstan untuk melayani konsumen.

Shinta memberikan contoh spesifik mengenai sektor yang akan merasakan dampak kenaikan ini, meliputi usaha jasa, ritel, distribusi berskala kecil, layanan kurir atau pengiriman tahap akhir (last-mile delivery), serta kegiatan yang melibatkan pergerakan tenaga kerja dan pemasaran langsung.

"Dalam jangka pendek, dampaknya akan terasa pada kenaikan biaya operasional harian, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki intensitas mobilitas tinggi," kata Shinta kepada Bisnis, Rabu (10/6/2026).

Apindo menekankan bahwa UMKM dan pelaku usaha yang beroperasi dengan margin keuntungan tipis akan menghadapi beban biaya tambahan yang cukup signifikan akibat lonjakan harga BBM nonsubsidi ini.

"Bagi usaha besar, dampaknya mungkin masih dapat dikelola melalui efisiensi operasional dan penyesuaian manajemen biaya. Namun, bagi UMKM dan pelaku usaha dengan margin yang tipis, kenaikan biaya BBM seperti ini tetap dapat menjadi tekanan tambahan yang cukup signifikan," ujarnya.

Kondisi ini diperparah karena dunia usaha saat ini masih berjuang melawan akumulasi tekanan biaya dari berbagai faktor eksternal. Faktor-faktor tersebut termasuk pelemahan daya beli masyarakat, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta kenaikan biaya energi dan logistik secara umum.