HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru di kancah internasional mengindikasikan potensi kenaikan signifikan pada harga minyak mentah Brent. Perusahaan konsultan energi Rapidan Energy Group merevisi proyeksi mereka, menyoroti dinamika geopolitik yang kian memanas.
Kenaikan harga ini dipicu oleh memudarnya harapan akan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini secara fundamental mengubah lanskap pasar energi global dan membuka potensi volatilitas yang lebih tinggi.
Rapidan Energy Group kini memprediksi harga minyak acuan kuartal keempat akan bergerak mendekati US$100 per barel. Angka ini merupakan revisi naik dari perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran US$85 per barel.
Penyebab utama di balik revisi naik ini adalah ancaman gangguan perdagangan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini menjadi titik krusial bagi pasokan minyak global.
"Runtuhnya nota kesepahaman (MOU) AS-Iran telah secara fundamental mengubah prospek kami," demikian disampaikan oleh para analis Rapidan dalam catatan yang dirilis pada Jumat.
Perusahaan konsultan tersebut memperingatkan bahwa harga acuan global berpotensi merangkak ke kisaran pertengahan US$100 dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini akan terjadi jika optimisme terkait perjanjian damai semakin memudar.
Lebih lanjut, pasar diperkirakan akan mulai mencerminkan fundamental pasokan yang semakin menipis. Ketegangan geopolitik dapat memperburuk kondisi pasokan minyak dunia.
Dikutip dari Bloomberg, Rapidan Energy Group menyoroti bahwa gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz dapat berimplikasi pada ketahanan pasokan minyak mentah global.
Kondisi ini juga dapat memicu kenaikan harga lebih lanjut jika pasar mulai mengantisipasi pengetatan pasokan. Ketidakpastian geopolitik kerap kali berdampak langsung pada sentimen pasar energi.