HOTNEWS.ID - Perkembangan positif di tingkat geopolitik global, yakni kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, mendapatkan respons positif dari kancah politik dalam negeri Indonesia. Pihak yang menyambut baik perkembangan ini adalah Fraksi Partai Golkar di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, secara terbuka menyatakan apresiasinya terhadap tercapainya stabilitas hubungan antara kedua negara yang sebelumnya tegang tersebut. Langkah ini dinilai sebagai pembukaan peluang baru bagi kepentingan nasional Indonesia.

Sarmuji menekankan bahwa momentum perdamaian ini harus segera ditangkap dan dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemerintah Indonesia. Ia berpendapat bahwa peluang ini tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa ada tindakan strategis yang terencana.

Ia meminta agar Pemerintah bergerak dengan cepat namun tetap terukur dalam merespons dinamika global yang baru terjadi ini. Tujuannya adalah memastikan bahwa perdamaian tersebut dapat diterjemahkan menjadi manfaat riil bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

"Ini momentum yang tidak boleh disia-siakan. Pemerintah harus bergerak cepat dan terukur untuk mengonversi perdamaian ini menjadi manfaat nyata bagi rakyat Indonesia," kata Sarmuji dalam keterangan tertulisnya.

Dikutip dari Antara, Sarmuji menyampaikan pandangannya tersebut pada hari Rabu, tepatnya tanggal 17 Juni 2026. Pernyataan ini sekaligus menjadi dorongan politik agar pemerintah segera menyusun kebijakan yang adaptif terhadap situasi baru tersebut.

Salah satu indikator nyata dari dampak positif perdamaian ini terlihat pada pasar komoditas global, khususnya minyak mentah. Sarmuji menyoroti bagaimana sinyal pasar telah merespons sebelum adanya kalkulasi ekonomi formal yang terbit.

Sebagai contoh konkret, harga minyak jenis Brent dilaporkan mengalami penurunan signifikan pasca pengumuman tersebut. Harga tersebut langsung merosot tajam hampir 4 persen pada perdagangan Senin pagi, dari posisi penutupan hari Jumat di level 87,33 dolar AS per barel menjadi kisaran 83,92 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak dunia ini secara langsung memberikan angin segar bagi upaya pemerintah dalam memperbaiki dan menjaga stabilitas fiskal negara. Harga energi yang lebih rendah dapat menekan biaya impor dan inflasi domestik.