HOTNEWS.ID - Industri perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia kini tengah bergerak menuju fase transisi penting, meninggalkan strategi "bakar uang" yang masif demi mengejar pertumbuhan pengguna dan transaksi di tahun-tahun sebelumnya. Pergeseran fokus utama saat ini adalah pada peningkatan profitabilitas, efisiensi operasional, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) mengamati bahwa lanskap e-commerce nasional telah mencapai tingkat kedewasaan yang lebih signifikan. Perusahaan tidak lagi memprioritaskan pertumbuhan semata melalui promosi diskon besar-besaran, melainkan berupaya membangun fondasi bisnis yang lebih sehat.
Perubahan strategis ini didorong oleh berbagai dinamika pasar dan ekonomi, termasuk perubahan kondisi pendanaan, tuntutan investor akan profitabilitas, kebutuhan efisiensi operasional, serta perkembangan teknologi dan regulasi yang ada.
"Mulai dari perubahan kondisi pendanaan, tuntutan profitabilitas, efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi termasuk AI [kecerdasan buatan] untuk meningkatkan produktivitas, hingga dinamika regulasi yang terus berkembang," ujar Ketua Umum idEA Budi Primawan saat diwawancarai Bisnis pada Senin (6/7/2026).
Bapak Budi menekankan bahwa perusahaan harus terus beradaptasi dengan lingkungan yang dinamis, memastikan kepatuhan terhadap regulasi sambil tetap menjaga daya saing di pasar. Tren efisiensi yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir merupakan bagian alami dari proses pendewasaan sektor digital ini.
"Setelah melewati fase ekspansi yang sangat agresif, perusahaan kini lebih fokus pada keberlanjutan bisnis, optimalisasi investasi, dan peningkatan produktivitas," lanjutnya.
Efisiensi yang dilakukan perusahaan tidak selalu berarti pengurangan jumlah tenaga kerja, melainkan juga mencakup penyederhanaan alur kerja, pemanfaatan teknologi terkini, serta pengalokasian sumber daya ke area yang memberikan nilai tambah paling besar. Di sisi lain, investasi tetap dilakukan pada pengembangan talenta, teknologi, keamanan, logistik, dan layanan pelanggan untuk menopang pertumbuhan di masa mendatang.
Prospek industri e-commerce hingga penghujung tahun 2026 diperkirakan tetap positif, meskipun laju pertumbuhannya akan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya. Konsumen dan pedagang menunjukkan perilaku yang semakin hibrida, memanfaatkan kanal online dan offline sesuai kebutuhan masing-masing.
"Ke depan, kunci pertumbuhan yang berkelanjutan adalah terus berinovasi, meningkatkan efisiensi, memperkuat kolaborasi dengan UMKM, logistik, dan pembayaran digital, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, pengalaman pengguna, dan keberlanjutan bisnis," ungkap Budi Primawan.