HOTNEWS.ID - Saat ini, sejumlah negara di benua Eropa tengah menghadapi ancaman serius berupa gelombang panas atau heat wave yang signifikan. Fenomena ini menyebabkan suhu udara melonjak jauh melampaui batas normal di wilayah tersebut.

Kenaikan suhu ekstrem di Eropa telah memicu berbagai dampak negatif, mulai dari peningkatan risiko kebakaran hutan yang masif hingga lonjakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga mulai merasakan peningkatan suhu udara yang cukup tinggi di berbagai wilayah menjelang puncak musim kemarau. Banyak yang kemudian membandingkan kondisi ini dengan situasi di Eropa.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi bahwa panas yang terjadi di Indonesia belum dapat dikategorikan sebagai gelombang panas. Hal ini karena Indonesia berada di zona tropis dengan pola suhu yang cenderung stabil sepanjang tahun.

BMKG menjelaskan bahwa gelombang panas secara definisi lebih sering terjadi pada wilayah lintang menengah hingga tinggi yang mengalami pergantian musim. Fenomena ini ditandai dengan suhu yang naik drastis melampaui rata-rata iklim setempat selama beberapa hari berturut-turut, sebuah karakteristik yang tidak ditemukan di Indonesia.

"BMKG menegaskan Indonesia berada di wilayah tropis dengan karakteristik suhu yang relatif stabil sepanjang tahun sehingga berbeda dengan negara-negara subtropis atau empat musim," ujar perwakilan BMKG.

Menurut BMKG, peningkatan suhu panas yang dirasakan di Indonesia saat ini lebih disebabkan oleh faktor lokal. Faktor-faktor tersebut mencakup posisi semu Matahari, minimnya tutupan awan yang memaksimalkan penyinaran matahari, serta kondisi atmosfer yang mendukung kenaikan suhu permukaan.

Dikutip dari World Meteorological Organization (WMO), gelombang panas didefinisikan sebagai periode cuaca dengan suhu sangat tinggi dibandingkan kondisi normal di suatu area dan berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Fenomena ini bisa terjadi di darat atau area perkotaan dengan pengaruh urban heat island.

Lebih lanjut, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyatakan bahwa penetapan ambang batas suhu untuk gelombang panas tidak bersifat universal. Penentuan dilakukan berdasarkan suhu yang jauh lebih tinggi dari rata-rata daerah tersebut selama minimal dua hingga tiga hari.