HOTNEWS.ID - Perkembangan mengejutkan terjadi dalam hubungan internasional ketika Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara resmi membatalkan rencana serangan militer yang sebelumnya dijadwalkan terhadap Republik Islam Iran. Keputusan ini diambil setelah adanya sinyal positif dari jalur komunikasi diplomatik.

Pembatalan serangan ini secara langsung mengisyaratkan bahwa kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan substansial antara kedua belah pihak semakin terbuka lebar. Langkah ini menandai meredanya ketegangan militer yang sempat membayangi kawasan Timur Tengah.

Keputusan dramatis tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Trump melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social. Peristiwa ini disiarkan pada hari Jumat, 12 Juni 2026.

Trump menjelaskan bahwa landasan pembatalan serangan tersebut adalah adanya kemajuan signifikan dalam dialog dengan kepemimpinan tertinggi Iran. "Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya telah... membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini," kata Trump, seperti dikutip dari AFP.

Lebih lanjut, Presiden Trump mengungkapkan bahwa proses negosiasi telah mencapai titik krusial di mana poin-poin penting telah disepakati. Kesepakatan ini mencakup aspek konsep hingga detail teknis dari rencana yang sedang dibahas.

"Diskusi dan poin-poin akhir telah, baik dalam konsep maupun detailnya, disetujui oleh semua pihak yang terlibat," ujar Trump, mengonfirmasi kesamaan pandangan di antara para negosiator.

Pihak-pihak yang terlibat dalam kesepakatan ini tidak hanya mencakup Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga Israel. Israel diketahui sebelumnya terlibat bersama AS dalam eskalasi konflik yang terjadi pada bulan Februari.

Keputusan ini memberikan kelegaan besar bagi komunitas internasional yang selama ini mengkhawatirkan potensi perang skala penuh antara kekuatan besar di kawasan tersebut. Pembatalan serangan menunjukkan adanya prioritas pada jalur diplomasi.

Dilansir dari AFP, pengumuman yang disampaikan pada Jumat (12/6/2026) ini menggarisbawahi pergeseran strategi dari konfrontasi militer menjadi penyelesaian melalui meja perundingan yang intensif.