HOTNEWS.ID - Defisit neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, sebuah kondisi yang sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah global. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengidentifikasi lonjakan harga komoditas energi ini sebagai faktor utama yang mendorong defisit pada sektor migas.
Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan pandangannya mengenai situasi ini saat ditemui di Trans Studio Mall Cibubur, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026). Beliau menegaskan bahwa secara fundamental, kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan kekuatan yang solid.
Hal ini terbukti dari neraca perdagangan sektor nonmigas yang masih mampu membukukan surplus yang cukup signifikan pada periode yang sama. Kinerja positif sektor nonmigas ini menjadi penyeimbang utama terhadap tekanan dari sektor migas.
Menteri Budi menjelaskan bahwa periode Maret hingga April 2026 merupakan masa puncak harga minyak dunia, yang berdampak langsung pada neraca perdagangan bulan Mei. "Ya, kan, Maret—April harga minyak itu kan lagi puncaknya. Jadi sebenarnya, karena faktor harga minyak yang sangat tinggi," jelasnya.
Ia merinci bahwa surplus dari sektor nonmigas mencapai US$2,15 miliar, namun defisit yang terjadi di sektor migas mencapai US$3,7 miliar, menghasilkan defisit netto pada neraca perdagangan bulan Mei. "Karena nonmigas kita kan surplus US$2,15 miliar, tapi defisit migas kita US$3,7 miliar. Mudah-mudahan bulan depan sudah normal lagi ya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Budi Santoso menekankan bahwa defisit yang terjadi hanya pada bulan Mei 2026 tidak merepresentasikan performa perdagangan sepanjang tahun berjalan. Ia menggarisbawahi bahwa secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus yang positif.
Antisipasi Tekanan Rupiah: Analisis Pasar dan Proyeksi Pergerakan Terhadap Dolar AS Hari Ini
"Secara kumulatif, Januari—Mei [2026] kan tetap naik, kita tetap surplus US$4,03 miliar. Jadi hanya bulan Mei saja [defisit], tetapi Januari—Mei secara kumulatif tetap surplus, dan ekspornya tetap naik," ujar Budi Santoso.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data resmi mengenai neraca perdagangan tersebut, yang menandai berakhirnya tren surplus perdagangan yang telah berlangsung sejak Mei 2020.
BPS mencatat nilai ekspor Indonesia selama Mei 2026 mencapai US$23,20 miliar, menunjukkan penurunan sebesar 5,73% secara tahunan (YoY). Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya kinerja ekspor nonmigas, khususnya untuk komoditas seperti logam mulia dan perhiasan, bijih logam, serta besi dan baja.