HOTNEWS.ID - Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menegaskan bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor kesehatan tidak secara otomatis menjadi ancaman definitif bagi keberlangsungan lapangan kerja dokter maupun perawat.

Hal ini disampaikan oleh Ekonom Senior ILO, Janine Berg, yang memprediksi bahwa alih-alih mengeliminasi tenaga kesehatan, teknologi AI justru akan mengubah lanskap pekerjaan melalui penyesuaian dan restrukturisasi tugas yang ada.

Janine Berg memaparkan temuan riset ILO yang dilaksanakan di tiga negara berbeda, yaitu Indonesia, Kenya, dan Belanda, mengenai implementasi model large language model (LLM). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan LLM terbukti mampu meningkatkan akurasi dan kualitas diagnosis medis yang diberikan oleh praktisi kesehatan.

Secara spesifik di Indonesia, kolaborasi riset dengan IMERI Universitas Indonesia (UI) menghasilkan data kuantitatif yang signifikan. Tercatat bahwa skor rata-rata diagnosis yang dibuat oleh praktisi medis mengalami peningkatan, dari kisaran 40 poin menjadi mendekati 50 poin ketika mereka menggunakan bantuan sistem AI.

"Profesional kesehatan relatif kebal terhadap risiko pergantian tenaga kerja akibat AI, lantaran rentang tugas mereka yang sangat memerlukan keterlibatan manusia," kata Janine secara virtual saat berpartisipasi dalam diskusi yang diselenggarakan oleh ILO di Jakarta pada hari Rabu, 24 Juni 2026.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penerapan AI dalam operasional rumah sakit berpotensi besar untuk mengambil alih beban kerja administratif yang bersifat rutin. Beban administratif inilah yang selama ini seringkali menjadi pemicu utama terjadinya burnout di kalangan dokter dan perawat.

Menurut pandangan ILO, keberadaan AI dapat berfungsi sebagai alat bantu strategis di tengah tantangan global terkait kekurangan tenaga kesehatan. Kondisi ini diperkirakan akan mencapai defisit hingga 30 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030, sebagaimana estimasi yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Janine kemudian menunjukkan sebuah grafik pemetaan yang mengklasifikasikan tingkat risiko pekerjaan sektor kesehatan dapat digantikan sepenuhnya oleh AI. Grafik tersebut mengindikasikan bahwa tugas yang berorientasi pada aktivitas klinis memiliki skor risiko substitusi yang rendah.

Sebaliknya, tugas-tugas yang berkaitan dengan aspek administratif menunjukkan skor risiko yang jauh lebih tinggi, berkisar antara 0,4 hingga 0,45 dalam matriks risiko tersebut.