HOTNEWS.ID - Duta Besar Indonesia untuk Australia, Siswo Pramono, mengungkapkan bahwa Indonesia dan Australia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi baru di kawasan Asia Pasifik. Potensi ini muncul seiring semakin eratnya integrasi rantai pasok kedua negara, mencakup sektor pupuk, pangan, mineral, hingga industri manufaktur.

Menurut Siswo Pramono, krisis geopolitik global justru menjadi katalis yang memperlihatkan besarnya peluang kolaborasi ekonomi antara kedua negara tetangga ini. Indonesia dinilai memiliki keunggulan dalam sektor manufaktur dan pengolahan, sementara Australia berperan sebagai pemasok bahan baku strategis yang sangat dibutuhkan oleh industri nasional Indonesia.

Hubungan ekonomi kedua negara kini semakin konvergen karena masing-masing pihak mampu mengisi kebutuhan yang tidak dimiliki oleh pihak lain. Australia memerlukan pasokan pupuk urea dari Indonesia untuk mendukung sektor pertaniannya yang masif.

Sebaliknya, Indonesia sangat membutuhkan pasokan fosfat, gandum, kapas, serta berbagai jenis mineral yang melimpah di Negeri Kanguru tersebut untuk mendukung industri pupuk domestik.

"Indonesia dan Australia itu harus jadi yang namanya economic powerhouse bersama-sama. Bahan baku dari sini diolah di Indonesia, kemudian dikirim lagi untuk diproses lebih lanjut dengan teknologi tinggi," kata Siswo saat ditemui di Brisbane, Australia, Senin (22/6/2026).

Kerja sama government-to-government (G2G) untuk ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia menjadi bukti konkret bagaimana struktur ekonomi kedua negara saling melengkapi. Australia selama ini mengandalkan sekitar 2 juta ton pupuk dari total kebutuhannya yang mencapai 3,7 juta ton per tahun, sebagian besar dari Timur Tengah.

Ancaman terhadap keberlanjutan pasokan dari Timur Tengah, seiring konflik Iran-AS dan potensi penutupan Selat Hormuz, mendorong Australia mencari alternatif pasokan yang lebih aman. "Kalau tidak ada krisis mungkin orang tidak mikir ke situ. Sekarang Australia sadar bahwa di sebelahnya ada produsen urea besar. Kita juga sadar bahwa fosfat ternyata tersedia di Australia," ujar Siswo saat ditemui di Brisbane, Senin (22/6/2026).

Kesadaran ini mendorong pola kerja sama yang lebih terintegrasi, di mana Indonesia memasok urea dan Australia menyediakan fosfat melalui kontrak jangka panjang untuk kebutuhan industri pupuk nasional. Sebagai implementasi nyata, Australia telah menerima 47.250 ton pupuk urea dari Indonesia dalam pengiriman perdana yang bersandar di Port of Brisbane pada Senin (22/6/2025).

Pengiriman perdana ini merupakan bagian dari kontrak pasokan total 250.000 ton antara PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Incitec Pivot Fertilisers. Selain sektor pupuk, Indonesia juga mulai mendapatkan tambahan pasokan liquefied petroleum gas (LPG) dari Australia untuk menutupi kekurangan pasokan akibat gangguan distribusi dari Timur Tengah.