HOTNEWS.ID - Dunia sepak bola Indonesia kembali diliputi duka mendalam atas berpulangnya salah satu legenda terbesarnya, Marundung Basri, yang lebih dikenal luas sebagai M. Basri. Sosok yang pernah mengabdikan diri sebagai pemain dan pelatih Tim Nasional Indonesia ini tutup usia pada hari Kamis (23/7).
Kepergian M. Basri terjadi setelah beliau menjalani serangkaian perawatan medis di salah satu rumah sakit ternama di Surabaya, Jawa Timur. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pihak keluarga, mengakhiri perjuangan sang maestro di dunia sepak bola.
"Iya betul, tadi pagi jam 05.12 WIB di RS Darmo," demikian ujar putra M. Basri, Ridwan, saat dikonfirmasi oleh CNNIndonesia.com pada Kamis (23/7). Pernyataan ini menegaskan waktu dan lokasi kepergian sang legenda.
Jenazah almarhum Muhammad Basri selanjutnya akan disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Surabaya. Hal ini menjadi momen bagi keluarga, kerabat, serta para pencinta sepak bola untuk memberikan penghormatan terakhir.
Muhammad Basri, yang akrab disapa Om Basri oleh para pemain dan pendukung setia PSM Makassar, lahir di Makassar pada tanggal 5 Oktober 1942. Perjalanan hidupnya terjalin erat dengan perkembangan sepak bola tanah air.
Namanya telah begitu lekat di benak para pecinta sepak bola Indonesia, terutama saat ia berseragam PSM Makassar. Sebagai pemain, ia berhasil mengantarkan klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan itu meraih gelar juara Perserikatan sebanyak dua kali, yakni pada musim 1964-1965 dan 1965-1966.
Tak hanya di level klub, M. Basri juga menjadi bagian penting dari skuad Timnas Indonesia. Ia membela panji Merah Putih dalam rentang waktu yang cukup panjang, dari tahun 1962 hingga 1973, menunjukkan dedikasi dan kualitasnya di kancah internasional.
Setelah gantung sepatu, M. Basri tidak pernah jauh dari lapangan hijau. Ia melanjutkan karirnya dengan terjun ke dunia kepelatihan, dan di sinilah namanya semakin bersinar. Ia pernah menukangi berbagai klub ternama hingga tim nasional, meninggalkan jejak prestasi yang tak terhapuskan.
Salah satu pencapaian gemilangnya sebagai pelatih adalah saat membawa Persebaya Surabaya meraih gelar juara Perserikatan pada tahun 1977. Prestasi ini membuktikan ketajaman taktik dan kemampuannya dalam membangkitkan performa tim.