HOTNEWS.ID - Perdamaian yang terjalin antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi membawa angin segar bagi iklim investasi global serta perekonomian Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), setelah menghadiri rapat terbatas.

Peristiwa penting ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menandatangani kesepakatan damai tersebut di Istana Versailles, Prancis. Kesepakatan ini mencakup beberapa poin krusial, termasuk gencatan senjata dan pembukaan kembali jalur perdagangan energi vital.

Salah satu dampak utama dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah adalah potensi stabilitas pada pergerakan harga minyak dunia. Stabilitas ini secara langsung akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Pandu Sjahrir menegaskan pandangannya mengenai situasi ini saat berada di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (18/6/2026). "Kalau kita bacaannya bila ini sudah damai sebenarnya bagus ya," ujar Pandu Sjahrir.

Ia melanjutkan penjelasannya bahwa stabilitas harga minyak merupakan salah satu variabel kunci yang mendukung kondisi ekonomi domestik maupun global. Bagi Indonesia, kondisi fiskal pemerintah diprediksi akan turut membaik seiring perkembangan ini.

"Kita lihat harga minyak, ada stabilitas ekonomi lebih baik dan berdampak positif ke fiskal kita juga dan perkembangan ekonomi," kata Pandu Sjahrir.

Berkurangnya ketidakpastian geopolitik juga diyakini akan meningkatkan kepercayaan para investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di berbagai pasar, termasuk pasar keuangan Indonesia. Momentum pasar saat ini dinilai cukup mendukung untuk instrumen pendanaan global.

Ketika ditanya mengenai minat investor Amerika Serikat terhadap penerbitan obligasi global (global bond), Pandu Sjahrir memberikan respons singkat namun positif. "Ya momentumnya bagus," ujarnya singkat.

Kesepakatan damai antara kedua negara besar tersebut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia. Sebagai contoh, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus turun 1,13% menjadi US$78,65 per barel, sebagaimana dilansir dari CNBC International pada Kamis (18/6/2026).