HOTNEWS.ID - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mulai menyusun peta jalan strategis untuk mengoptimalkan peluang yang muncul seiring pertumbuhan signifikan populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia. Langkah proaktif ini merupakan antisipasi terhadap perubahan struktur demografi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Sektor yang dikenal sebagai silver economy ini diperkirakan akan menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar, bahkan diprediksi mencapai Rp500 triliun hingga Rp700 triliun setiap tahunnya pada tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada peningkatan proporsi lansia yang diproyeksikan mencapai 20% dari total populasi, naik signifikan dari estimasi 12% pada tahun 2026.
Direktur Komersial KAEF, Hanadi Setiarto, menekankan bahwa kelompok usia lanjut akan menjadi salah satu poros utama yang menggerakkan industri kesehatan nasional dalam dua dekade mendatang. Hal ini menunjukkan urgensi bagi industri untuk melakukan adaptasi model bisnis saat ini.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, perusahaan farmasi BUMN ini tengah menyiapkan sebuah dokumen strategis yang dinamakan Silver Economy Blueprint. Tujuannya adalah membangun ekosistem penuaan sehat (healthy ageing) yang terintegrasi secara menyeluruh.
"Silver economy merupakan peluang besar yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Kami ingin membangun ekosistem kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan peningkatan kualitas hidup lansia," ujar Hanadi Setiarto dalam keterangan tertulis pada hari Senin (15/6/2026).
Hanadi mengungkapkan bahwa saat ini, kelompok lansia sudah menyerap porsi besar dari belanja kesehatan nasional, yakni sekitar 30% hingga 40%, yang setara dengan nilai Rp190 triliun hingga Rp260 triliun per tahun. Konsumsi layanan kesehatan oleh lansia memang terbukti jauh lebih tinggi, mencapai tiga hingga lima kali lipat dibandingkan kelompok usia lainnya.
Lebih lanjut, disebutkan bahwa sekitar 70% dari total biaya kesehatan lansia dialokasikan untuk menangani penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya. Kondisi ini menciptakan momentum penting bagi Kimia Farma untuk melakukan penyesuaian fokus bisnis.
Menurut Hanadi, kondisi ini mendorong Kimia Farma untuk melakukan reorientasi model bisnis dari layanan yang fokus pada pengobatan (curative care) menuju layanan yang bersifat preventif dan rehabilitatif. Ia menambahkan bahwa dari total peluang ekonomi perak, hanya sekitar 30% yang berasal dari sektor farmasi, sementara 70% sisanya berasal dari layanan kesehatan terintegrasi.
Segmen layanan yang diproyeksikan memberikan kontribusi terbesar dalam ekosistem baru ini meliputi Home Care dan Long Term Care (masing-masing 20%), diikuti oleh Chronic Care Management (20%), serta wellness dan Preventive Care (15%), dan layanan diagnostik (15%).