HOTNEWS.ID - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif hingga kuartal I/2026 sangat ditopang oleh kinerja sektor logistik nasional, khususnya aktivitas bongkar muat di berbagai pelabuhan. Aktivitas bongkar muat yang terus menunjukkan tren positif ini menjadi indikator kuat bahwa kegiatan ekonomi di Tanah Air sedang menguat.
Kinerja positif ini tidak hanya terlihat dari pertumbuhan arus peti kemas sebesar 7% secara tahunan pada Januari hingga April 2026, namun juga dari sektor nonpetikemas. PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), anak usaha PT Pelindo Multi Terminal, mencatat total throughput nonpetikemas sebesar 12,84 juta ton pada kuartal pertama tahun 2026.
Realisasi ini mencakup general cargo, curah kering, curah cair, dan bag cargo, menunjukkan diversifikasi kinerja operasional perusahaan. Salah satu segmen yang melonjak signifikan adalah curah cair yang mencapai 3,09 juta ton, menandai pertumbuhan 16% secara tahunan dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.
Peningkatan signifikan pada curah cair terutama didorong oleh aktivitas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) di Teluk Bayur, kelancaran bongkar muat di Pontianak, serta peningkatan aktivitas komoditas di Tanjung Priok. Sementara itu, segmen curah kering tetap menjadi tulang punggung utama operasional dengan realisasi mencapai 5,76 juta ton.
Namun, kinerja positif ini masih dihadapkan pada tantangan tingginya biaya logistik nasional yang berpotensi memengaruhi daya saing industri dalam negeri. Berdasarkan data Bappenas, biaya logistik nasional pada tahun 2022 berhasil ditekan menjadi 14,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), turun dari periode 2018-2022.
Biaya logistik nasional terdiri dari tiga komponen utama, di mana biaya transportasi dan pergudangan menyumbang porsi terbesar. Pelabuhan sebagai unsur transportasi hanya menyumbang sekitar 1,14% hingga 1,76% dari total biaya logistik nasional, namun PTP Nonpetikemas menyoroti pentingnya optimalisasi kinerja pelabuhan.
Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas Fiona Sari Utami menjelaskan fokus perusahaan dalam mengatasi tantangan efisiensi logistik. "Fokus perusahaan adalah mempercepat pelayanan kapal dan barang sehingga turnaround time semakin kompetitif," ujar Fiona kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).
Percepatan waktu tinggal kapal di pelabuhan diharapkan dapat mengurangi biaya operasional, termasuk penghematan bahan bakar dan biaya awak kapal bagi pihak shipping line. Hal ini penting mengingat rata-rata waktu putar kapal di Indonesia berdasarkan LPI 2022 masih sekitar 1,8 hari, lebih lama dari Singapura (1,2 hari) dan Vietnam (0,9 hari).
Fiona Sari Utami juga menambahkan bahwa PTP Nonpetikemas terus berupaya meningkatkan efisiensi melalui inisiatif strategis. "Peningkatan efisiensi operasional secara langsung berkontribusi pada pengurangan biaya logistik pengguna jasa," tambahnya.