HOTNEWS.ID - Sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang disahkan parlemen Madagaskar pada 1 Juli lalu berpotensi menimbulkan risiko serius bagi perusahaan energi internasional. RUU tersebut bertujuan untuk mendirikan sebuah perusahaan minyak milik negara yang akan mengendalikan seluruh impor bahan bakar di negara tersebut.

Rencana ini muncul sekitar lima minggu setelah Perdana Menteri Mamitiana Rajaonarison menyatakan kepada kantor berita Rusia, Sputnik, tentang kemungkinan pembukaan fasilitas penyimpanan minyak. Hal ini disebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengamankan investasi dari Rusia.

Sejak militer Madagaskar mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada Oktober lalu, pemerintahan baru ini secara aktif berupaya mempererat hubungan dengan Rusia. Kolonel Michael Randrianirina, yang memimpin kudeta dan kini menjabat sebagai Presiden Madagaskar, bahkan telah melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada Februari.

Selain itu, kehadiran pelatih militer dan pengiriman senjata dari Rusia ke pulau tersebut juga telah disambut baik oleh pihak berwenang Madagaskar. Langkah-langkah ini menunjukkan adanya peningkatan kerja sama bilateral antara kedua negara.

Di sisi lain, Rusia saat ini sedang aktif mencari pasar baru untuk komoditas minyaknya. Hal ini terjadi karena minyak Rusia telah dikenakan berbagai sanksi oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat sebagai respons atas invasi mereka ke Ukraina.

Para pelaku industri energi, termasuk perusahaan besar seperti TotalEnergies SE, telah menyuarakan keprihatinan mereka. Mereka memperingatkan bahwa kebijakan nasionalisasi impor bahan bakar oleh Madagaskar dapat menempatkan mereka dan para pelanggan dalam risiko perdagangan dan penggunaan minyak yang berpotensi terkena sanksi internasional.

"Perusahaan-perusahaan, termasuk TotalEnergies SE, memperingatkan bahwa rencana Madagaskar untuk menasionalisasi impor bahan bakar dapat membuat mereka dan pelanggan mereka berisiko melakukan perdagangan dan penggunaan minyak yang dikenai sanksi," demikian dikutip dari Bloomberg News.

Perdana Menteri Mamitiana Rajaonarison mengungkapkan niat pemerintahannya kepada kantor berita milik negara Rusia, Sputnik. Ia menyatakan bahwa "fasilitas penyimpanan minyak dapat dibuka sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengamankan investasi Rusia," demikian dikutip dari Bloomberg News.

Kolonel Michael Randrianirina, yang kini menjabat sebagai Presiden Madagaskar, menunjukkan kedekatan dengan Rusia melalui pertemuannya dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada Februari. Ia juga dilaporkan telah menyambut kedatangan personel militer dan persenjataan dari Rusia ke negaranya, demikian dikutip dari Bloomberg News.