HOTNEWS.ID - Pelaku pasar di Indonesia sedang menanti pengumuman hasil MSCI Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026 mendatang. Agenda evaluasi tahunan ini sangat krusial karena akan memutuskan apakah Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market atau mengalami perubahan status klasifikasi.

Sebelum pengumuman besar tersebut, MSCI Inc. telah merilis hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review pada 18 Juni 2026. Penilaian mengenai aksesibilitas pasar Indonesia yang dirilis sebelumnya ini menjadi salah satu acuan penting dalam evaluasi klasifikasi yang akan diumumkan minggu depan.

Analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menjelaskan bahwa MSCI menggunakan tiga kriteria utama dalam menilai status suatu pasar. Kriteria tersebut meliputi tingkat perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta tingkat aksesibilitas pasar.

Isu utama yang sebelumnya disoroti oleh MSCI sejak Januari lalu berkaitan erat dengan kriteria aksesibilitas pasar, khususnya mengenai free float dan transparansi. Hal ini menjadi fokus utama dalam tinjauan terbaru MSCI.

Menurut Wilbert, hasil dari accessibility review pada 18 Juni 2026 memiliki implikasi langsung terhadap posisi Indonesia. Implikasi tersebut mencakup potensi mempertahankan status emerging market atau, dalam skenario terburuk, penurunan menjadi frontier market.

"Meski demikian, kami mengingatkan bahwa proses ini pada dasarnya bersifat kualitatif, dan keputusan final tetap akan ditentukan dalam classification review pekan depan," kata Wilbert, Jumat (19/6/2026), sebagaimana dikutip dari Bisnis.com.

Dalam MSCI 2026 Global Market Accessibility Review, MSCI memutuskan untuk menurunkan penilaian Information Flow pasar Indonesia dari positif "+" menjadi negatif "-". Penurunan ini disebabkan oleh keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya perilaku perdagangan terkoordinasi yang dianggap mengganggu pembentukan harga yang wajar.

Wilbert menilai bahwa isu mengenai penurunan Information Flow bukanlah hal baru dan sudah diketahui sebelumnya oleh pasar. Yang lebih penting menurutnya adalah tidak adanya penurunan pada aspek-aspek penilaian yang lebih luas dan fundamental lainnya.

Wilbert mencatat adanya dua faktor yang memicu kekhawatiran akan penurunan kelas Indonesia menjadi frontier market. Faktor pertama adalah pergerakan pasar yang lemah selama sebulan terakhir, yang kembali memunculkan spekulasi tersebut, dengan investor menyoroti aksesibilitas serta ukuran dan likuiditas pasar.