HOTNEWS.ID - Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala signifikan yang menghambat peran mereka sebagai pemasok vital dalam rantai pasok industri nasional. Ketergantungan manufaktur terhadap impor bahan baku dan komponen pun belum berhasil ditekan secara substansial meskipun pemerintah giat menjalankan program substitusi impor.
Secara kuantitas, IKM memang mendominasi lanskap industri nasional dengan jumlah mencapai 4,43 juta unit, atau hampir 99,8% dari total industri. IKM ini juga merupakan penyerap tenaga kerja terbesar, menampung sekitar 12,81 juta pekerja.
Namun, dominasi jumlah ini belum tercermin dalam kontribusi terhadap total output industri nasional. Ironisnya, IKM hanya menyumbang sekitar 21% dari output industri nonmigas, sementara industri besar menguasai hampir 79% sisanya.
Fokus utama IKM saat ini lebih cenderung sebagai penyerap tenaga kerja dan penopang aspek sosial ekonomi. "Perannya sebagai penghasil nilai tambah dan penguat rantai pasok domestik masih belum optimal," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, pada Selasa (9/6/2026).
Kondisi ini menjadi salah satu akar permasalahan mengapa program substitusi impor belum mampu mengurangi ketergantungan industri pada pasokan luar negeri secara signifikan. Hingga periode Januari-April 2026, struktur impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan barang penolong yang mencapai sekitar 71% dari total nilai impor.
Yusuf menjelaskan bahwa ketergantungan terbesar industri nasional justru terletak pada komponen dan barang setengah jadi yang merupakan inti dari proses produksi. Banyak program substitusi impor yang telah berjalan cenderung berfokus pada produk akhir, bukan pada industri antara.
Akibatnya, produk yang dirakit di dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan komponen dari luar negeri, seperti terlihat pada sektor otomotif yang impor komponennya meningkat dari US$2,29 miliar pada 2024 menjadi US$2,42 miliar pada 2025. "Selama industri antara dan industri hulu belum berkembang kuat, substitusi impor di tingkat hilir hanya memindahkan ketergantungan ke tahap produksi sebelumnya," jelas Yusuf.
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana membawa IKM naik kelas dan terintegrasi ke dalam rantai pasok industri besar. Pelaku IKM masih terganjal kendala pembiayaan, keterbatasan teknologi, tingginya biaya sertifikasi, hingga ketidakpastian pasar.
Di sisi lain, industri besar menuntut konsistensi tinggi terkait kualitas produk, kapasitas produksi, dan ketepatan waktu pengiriman, yang seringkali sulit dipenuhi oleh IKM karena keterbatasan modal dan skala produksi. Tanpa adanya kepastian permintaan, pelaku IKM enggan melakukan ekspansi atau investasi mesin untuk peningkatan mutu.