HOTNEWS.ID - Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Utara saat ini menjadi tontonan yang sangat menghibur bagi para penggemar sepak bola yang menyukai gaya bermain ofensif. Turnamen akbar ini mencatatkan peningkatan signifikan dalam jumlah gol yang tercipta, melampaui angka rata-rata pada edisi sebelumnya di Qatar.
Dilansir dari Asia One, hingga selesainya 40 pertandingan pertama, total telah tercipta 121 gol dari 88 pemain berbeda yang berbeda. Hal ini menunjukkan rata-rata produktivitas gol mencapai angka impresif, yakni tiga gol per laga, sebuah peningkatan substansial dari edisi sebelumnya.
Fenomena banjir gol ini memicu pertanyaan mengenai penyebab utamanya, mengingat hanya segelintir pertandingan yang berakhir tanpa gol alias skor kacamata (0-0). Berbagai faktor, mulai dari inovasi teknologi hingga perubahan regulasi, diduga menjadi pemicu utama lonjakan skor ini.
Salah satu kontributor utama adalah bola resmi yang digunakan FIFA dalam turnamen kali ini, yang memiliki karakteristik aerodinamis berbeda. Bola tersebut didesain dengan jahitan yang lebih dalam untuk meningkatkan stabilitas udara, namun efek sampingnya adalah kecepatannya yang meningkat drastis saat ditendang.
Pelatih Austria, Ralf Rangnick, memberikan pandangannya mengenai karakteristik bola baru tersebut. "Bola ini secepat peluru meriam. Jika Anda menendangnya di posisi yang tepat, akan sangat sulit bagi kiper untuk menyelamatkannya," keluh Ralf Rangnick.
Selain itu, bola ini juga dilengkapi lapisan luar dengan daya cengkeram tambahan, yang membantu pemain dalam mengontrol bola saat melakukan dribel maupun tendangan, terutama dalam kondisi lapangan yang basah.
Perubahan regulasi waktu bermain juga memainkan peran penting dalam peningkatan peluang mencetak gol. FIFA menerapkan aturan stoppage time (tambahan waktu) yang lebih ketat, dikombinasikan dengan adanya jeda hidrasi (hydration breaks) baru, sehingga waktu efektif bermain menjadi lebih panjang.
Faktor lain yang turut menyumbang adalah ekspansi peserta menjadi 48 tim untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia. Penambahan kuota ini disebut-sebut telah memperlebar kesenjangan kualitas (talent gap) antarnegara, memberikan keuntungan bagi tim-tim besar untuk mencetak banyak gol di fase grup.
Nestor Lorenzo, pelatih Kolombia, menyoroti bagaimana perubahan aturan turut menguntungkan para penyerang modern dalam mendapatkan perlindungan lebih dari perangkat pertandingan. "Penyerang tidak mendapatkan perlindungan ini 20 atau 30 tahun lalu, ketika mereka sering dihantam dan permainan kasar dianggap biasa," ujar Nestor Lorenzo.