HOTNEWS.ID - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi energi surya yang sangat besar, diperkirakan mencapai 10 Gigawatt (GW). Potensi ini didukung oleh kondisi geografis dan iklim yang sangat baik di wilayah Lombok dan Sumbawa yang kaya akan sinar matahari.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menjelaskan bahwa pengembangan energi surya di NTB bukanlah hal baru. Saat ini, provinsi tersebut telah mengoperasikan empat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala 5 Megawatt (MW) sejak tahun 2019. PLTS tersebut berlokasi di Pringgabaya, Selong, Sengkol, dan Sambelia.

Selain skala besar, pemanfaatan PLTS skala kecil juga telah merambah ke sejumlah desa di wilayah Lombok. Beberapa pulau seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air telah merasakan manfaat dari teknologi energi terbarukan ini, menunjukkan komitmen NTB dalam transisi energi.

"Kami juga siap berkontribusi dalam pengembangan PLTS 100 GW dengan mengambil peran bersama Bali dan NTT. NTB dapat fokus menyiapkan sisi pembangkit listrik tenaga surya, dengan potensi kontribusi sekitar 10 GW," jelas Iqbal di acara Indonesia Solar Panel Summit, Selasa (14/7/2026).

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik daerah. Setiap provinsi memiliki peluang unik untuk mengoptimalkan energi terbarukan dan potensi ekonomi lokal.

"IESR mendorong pendekatan pengembangan PLTS yang sesuai konteks setempat. Setiap daerah perlu diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai potensi, kebutuhan, dan struktur ekonominya masing-masing. Pemerintah daerah juga perlu dilibatkan sejak awal dalam perencanaan, perizinan, identifikasi lokasi, pengembangan proyek, serta pelibatan masyarakat dan dunia usaha," tegas Fabby.

Dalam kesempatan yang sama, IESR merilis laporan kajian berjudul "Peta Jalan Pengembangan Industri Rantai Pasok Fotovoltaik Surya Domestik di Indonesia". Laporan ini menyoroti peluang besar Indonesia dalam membangun industri surya yang terintegrasi secara domestik.

Namun, optimalisasi peluang ini terkendala oleh keterbatasan pasar domestik, regulasi yang belum stabil, dan belum terintegrasinya rantai pasok dalam negeri. Untuk itu, program PLTS nasional, termasuk target 100 GW, harus menjadi pengungkit penguatan industri dalam negeri.

"Kami menekankan bahwa pengembangan industri PLTS dalam negeri membutuhkan pembenahan di empat aspek utama, yaitu pasar, kapasitas industri, sumber daya manusia, serta riset dan pengembangan," jelas Fabby.