HOTNEWS.ID - PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL) telah menetapkan target strategis untuk memperluas penetrasi produk alat diagnostik mereka ke fasilitas kesehatan (faskes) primer setelah sukses melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini diambil sejalan dengan optimisme perusahaan terhadap potensi pertumbuhan pasar yang besar.
Perusahaan melihat bahwa program skrining kesehatan nasional yang digalakkan oleh pemerintah membuka peluang signifikan bagi layanan diagnostik di Indonesia. Kebutuhan akan alat diagnostik yang andal dan terjangkau menjadi fokus utama ekspansi pasca-IPO ini.
Direktur Utama Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, menyatakan bahwa perusahaan mengidentifikasi potensi pertumbuhan yang masih sangat terbuka lebar, khususnya di faskes primer yang belum sepenuhnya terlayani. Hal ini menjadi pendorong utama strategi bisnis ke depan.
Tujuh Emiten Borong Pendanaan Rp3,08 Triliun Lewat Penerbitan Obligasi dan Sukuk Baru di BEI
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau," kata Cristina Sandjaja.
Cristina menambahkan bahwa keunggulan kompetitif perusahaan, seperti kualitas produk yang unggul, kapasitas produksi yang besar, serta jaringan distribusi yang luas, mendukung ambisi ini. Selain itu, nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk yang tinggi juga menjadi nilai jual utama.
"Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," tutur Cristina Sandjaja dalam keterangan resmi pada Kamis (9/7/2026).
Prospek industri alat kesehatan dinilai sangat menjanjikan, didukung oleh alokasi anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada tahun 2026. Pemerintah juga menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau hingga 140 juta penduduk.
Dengan adanya lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah pada deteksi dini penyakit, industri diagnostik in vitro diprediksi memiliki ruang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk merealisasikan target tersebut, PRDL mengandalkan portofolio yang terdiri dari lebih dari 1.083 stock keeping unit (SKU) produk aktif. Produk-produk ini saat ini telah menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota di Indonesia.