HOTNEWS.ID - Pengusaha di Jawa Tengah mulai mencari alternatif pasar ekspor baru setelah menghadapi tantangan dalam bersaing di pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Langkah ini diambil untuk menjaga momentum pertumbuhan bisnis ekspor daerah tersebut.

Langkah diversifikasi pasar ini mencakup penjajakan mendalam ke negara-negara nontradisional, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Salah satu fokus utama adalah negara seperti Jordan dan Libya yang menunjukkan potensi permintaan yang tinggi bagi produk-produk lokal.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Provinsi Jawa Tengah, Ade Siti Muksodah, menjelaskan bahwa upaya penjajakan ini dilakukan melalui kegiatan business matching dan business meeting untuk memperkenalkan portofolio produk andalan Jawa Tengah.

"Kami melakukan business matching dan business meeting untuk memperkenalkan produk yang bisa kami tawarkan. Kami baru saja berkunjung ke Eropa, itu stuck. Tetapi ketika ke Libya, kami bisa membawa 15 Letter of Intent (LoI)," tutur Ade Siti Muksodah, pada Kamis (2/7/2026).

Menurut Ade, pasar ekspor di negara-negara nontradisional yang berada di Asia dan Afrika masih menawarkan prospek yang sangat menjanjikan bagi komoditas unggulan Jawa Tengah. Ini menjadi harapan baru bagi para pelaku usaha daerah tersebut.

Komoditas yang diminati di pasar baru tersebut meliputi rempah-rempah, minyak kemiri, teh, kopi, hingga berbagai olahan makanan seperti kerupuk dan mie instan. Produk-produk ini dinilai memiliki daya tarik kuat di negara tujuan ekspor tersebut.

Ade Siti Muksodah juga mengungkapkan bahwa pasar di luar Amerika Serikat dan Eropa masih sangat terbuka lebar bagi produk Indonesia. GPEI telah aktif menjajaki kota-kota penting di Libya dan Jordan.

"Kami memberikan masukan, pasar di luar AS dan Eropa itu masih terbuka sangat lebar. GPEI sudah menjajaki Tripoli dan Benghazi, sudah naik 30 kontainer furnitur untuk menengah ke bawah, 12 kontainer furnitur menengah ke atas juga dikirim ke Jordan," ungkap Ade.

Di sisi lain, para eksportir Jawa Tengah menghadapi kendala kenaikan biaya logistik yang signifikan. Kenaikan ongkos kirim ini dipicu oleh dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.