HOTNEWS.ID - Sektor properti di Indonesia menghadapi periode sulit sepanjang Semester I/2026, ditandai dengan penurunan signifikan dalam volume penjualan rumah. Kondisi ini menjadi indikator nyata adanya pelemahan daya beli masyarakat yang memengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses kepemilikan hunian.

Tekanan pada bisnis properti diperparah oleh kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh Bank Indonesia (BI) belakangan ini. Bank sentral secara agresif menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebagai upaya strategis untuk menahan laju depresiasi nilai tukar rupiah.

Dampak dari dinamika ekonomi tersebut membuat banyak calon pembeli cenderung bersikap menahan diri untuk merealisasikan rencana pembelian rumah mereka. Situasi ini menciptakan tekanan yang cukup berat bagi industri properti selama paruh pertama tahun 2026.

"Dalam semester 1/2026 penjualan properti perumahan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada Kuartal I/2026 saja data BI menunjukkan kelemahan penjualan mencapai 25,67% terutama karena tergerusnya daya beli masyarakat," jelas Bambang Ekajaya, Wakil Ketua Umum DPP Realestate Indonesia (REI), kepada Bisnis pada Kamis (2/7/2026).

Kondisi perlambatan permintaan ini diprediksi akan terus berlanjut dalam waktu dekat, kecuali jika perekonomian nasional menunjukkan tren perbaikan yang substansial. Imbas dari melemahnya sisi permintaan ini juga mulai terasa pada sisi suplai.

Bambang menambahkan bahwa banyak pengembang properti memilih untuk menunda pengembangan atau peluncuran proyek-proyek baru sebagai respons terhadap situasi pasar saat ini. Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian strategi dari sisi penyediaan properti.

"Konsumen umumnya wait and see menunggu kondisi ekonomi membaik. Sedangkan, saat ini developer umumnya menunda peluncuran proyek-proyek baru," imbuhnya.

Dampak berkepanjangan dari lesunya sektor ini dikhawatirkan dapat mengganjal pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan, mengingat sektor properti memiliki efek turunan yang menyentuh hingga 178 industri lainnya.

Dilansir dari Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, kontraksi penjualan properti residensial pada Triwulan I/2026 memang tercatat sebesar 25,67% secara tahunan (YoY). Penurunan ini terutama didorong oleh segmen rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 45,59% YoY, kontras dengan pertumbuhan tinggi sebelumnya.