HOTNEWS.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah diproyeksikan akan menunjukkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Rabu, 17 Juni 2026. Proyeksi ini sejalan dengan adanya sentimen positif setelah indeks dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan melemah signifikan di pasar global.

Penguatan yang dinanti ini terjadi setelah adanya kabar baik mengenai tercapainya kesepakatan awal antara Washington dan Teheran. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik yang selama ini membayangi kawasan serta memastikan dibukanya kembali jalur vital Selat Hormuz.

Perlu dicatat bahwa pada penutupan perdagangan sebelumnya, Selasa (16/6/2026), Rupiah sempat mengalami tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah sebanyak 19 poin, berakhir di posisi Rp17.725 per dolar AS dari posisi pembukaan sebelumnya di Rp17.708 per dolar AS.

Sebelumnya, sentimen negatif sempat membebani pergerakan Rupiah akibat bayang-bayang ancaman kebijakan perdagangan AS. Pemerintah Indonesia sebelumnya sempat memproyeksikan potensi peningkatan tarif impor hingga mencapai 18% bagi produk nasional.

Ancaman tarif ini muncul sebagai dampak dari investigasi yang sedang berlangsung terkait isu kapasitas produksi berlebih di sektor manufaktur Indonesia. Hal ini menjadi salah satu perhatian utama bagi para pelaku pasar domestik.

Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, kebijakan tarif impor tambahan tersebut memiliki dampak luas yang perlu diwaspadai. "Tidak hanya mengurangi daya saing produk di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut," ungkap Ibrahim dalam risetnya.

Namun, sentimen eksternal kini bergeser menjadi positif setelah pengumuman kesepakatan AS dan Iran. Kesepakatan damai awal ini secara langsung memicu penurunan tajam pada harga minyak dunia dan mendorong investor kembali melirik aset-aset yang dianggap berisiko.

Pelemahan indeks dolar AS dipicu oleh menurunnya kekhawatiran pelaku pasar terkait ancaman inflasi global. Hal ini terjadi karena risiko gangguan pasokan energi yang selama ini diakibatkan oleh ketegangan di Selat Hormuz kini mulai berkurang.

"Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik mereka dan membuka kembali Selat Hormuz. Kerangka kerja perdamaian tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dan meningkatkan sentimen risiko di pasar global," ujar Ibrahim.