HOTNEWS.ID - Permintaan lahan industri di Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diperhitungkan. Hal ini terjadi meskipun sektor manufaktur global sedang mengalami kontraksi dan ketidakpastian ekonomi masih membayangi.
Emiten-emiten kawasan industri seperti PT Puradelta Emas Tbk (DMAS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Kawasan Industri Jakarta Tbk (KIJA) optimis dapat mencapai target penjualan yang agresif hingga tahun 2026.
Faktor utama yang menopang optimisme ini adalah pesatnya ekspansi pusat data. Selain itu, perkembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sektor logistik juga turut berkontribusi.
Optimisme ini muncul berbanding terbalik dengan kondisi manufaktur yang justru menunjukkan pelemahan. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat turun ke level 46,9 pada Juni 2026.
Angka tersebut menurun dari posisi 50,0 pada bulan Mei sebelumnya, menandakan kembalinya kondisi operasional ke zona kontraksi. Penurunan ini diungkapkan oleh lembaga riset S&P Global.
"Penurunan tersebut menandai perubahan kondisi operasional yang kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya berada di zona stagnan," demikian analisis S&P Global yang dikutip dari Bisnis.com.
Meskipun demikian, para pelaku industri kawasan industri tetap melangkah maju dengan target yang ambisius. Mereka melihat potensi pertumbuhan jangka panjang yang kuat dari berbagai sektor.
Perkembangan teknologi dan pergeseran kebutuhan industri menjadi pendorong utama keyakinan para emiten ini. Mereka berinvestasi untuk memenuhi permintaan yang diprediksi akan terus meningkat.
Dikutip dari Bisnis.com, para emiten kawasan industri ini memproyeksikan peningkatan permintaan lahan yang signifikan di masa mendatang. Hal ini didukung oleh tren global dan domestik yang positif.