HOTNEWS.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren kenaikan sejak pekan kedua Juni 2026, berhasil kembali ke zona hijau. Penguatan ini ditopang oleh sejumlah sentimen positif yang muncul di pasar modal domestik.

Pada perdagangan hari Senin, 15 Juni 2026, IHSG ditutup melonjak signifikan sebesar 4,12% hingga mencapai level 6.254,97. Bahkan, dalam sesi intraday, indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.345.

Salah satu katalis utama yang mendorong optimisme pasar pada penguatan kemarin adalah antisipasi terhadap rencana penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan penting ini dijadwalkan berlangsung di Swiss pada hari Jumat, 19 Juni 2026.

Frits Tarihoran dari Research Consulting Team The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) menilai pergerakan IHSG minggu sebelumnya telah menguji kekuatan pemulihan pasar. Meskipun volume dan frekuensi transaksi naik, rata-rata nilai transaksi harian justru sedikit menurun menjadi Rp25,06 triliun.

"Pergerakan itu menunjukkan kembalinya risk appetite, tetapi masih lebih tepat dibaca sebagai fase pemulihan kepercayaan ketimbang perubahan tren jangka panjang," ujar Frits Tarihoran dalam TICMI Market Update pada Senin, 15 Juni 2026.

Analisis menunjukkan bahwa komposisi transaksi didominasi oleh investor domestik yang menjadi penopang utama, seiring dengan belum meredanya tekanan jual dari investor asing. Investor domestik tercatat melakukan pembelian bersih terbesar pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, BBCA, TPIA, dan BMRI pada periode 8–12 Juni 2026.

Fokus investor domestik pada saham likuid dan berbobot tinggi ini menjadikan mereka penentu utama pergerakan indeks saat investor asing masih mempertahankan sikap hati-hati. Meskipun asing mulai mengakumulasi beli pada saham seperti BRMS, INDF, dan BUMI, posisi mereka secara akumulatif sepanjang 2026 masih mencatat net sell sebesar Rp67,34 triliun.

"Itulah kenapa aktivitas asing pekan lalu lebih mencerminkan tactical buying pada saham tertentu daripada pemulihan arus modal secara struktural. Jadi reli lebih banyak ditopang oleh rotasi likuiditas dan pembelian domestik pada saham-saham likuid," tambah Frits Tarihoran.

Frits menekankan bahwa sentimen positif utama yang menggerakkan IHSG pada pertengahan Juni 2026 adalah kombinasi dari penguatan nilai tukar rupiah dan keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.