HOTNEWS.ID - Stasiun Pemancar Transmisi (BTS) USO yang berlokasi di Desa Bohesilian, Pulau Maratua, Kabupaten Berau, telah terbukti menjadi penopang utama kebutuhan komunikasi digital bagi ratusan penduduk setempat. Infrastruktur yang dibangun oleh Badan Akses dan Informasi Transformasi Digital (BAKTI) Kominfo ini telah beroperasi sejak tahun 2018.

BTS USO ini memiliki kapasitas layanan sebesar 8 Mbps, yang secara rutin dimanfaatkan oleh lebih dari 200 pengguna setiap bulannya. Berbeda dengan layanan internet komersial, BTS ini secara spesifik memancarkan sinyal seluler langsung ke perangkat ponsel masyarakat.

Keandalan operasional menjadi salah satu sorotan utama layanan ini, ditunjukkan oleh catatan performa yang sangat baik selama periode Februari hingga Mei. Keandalan pasokan daya tercatat mencapai di atas 99,99%, sebuah pencapaian yang didukung oleh ketersediaan baterai cadangan di lokasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Infrastruktur BAKTI Kominfo, Darien Aldiano, menegaskan bahwa keberadaan BTS ini merupakan manifestasi nyata dari kehadiran negara di wilayah yang secara komersial kurang menarik.

"Dari sudut pandang bisnis, perusahaan telekomunikasi swasta tidak memiliki ketertarikan komersial untuk masuk ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Faktor utamanya adalah populasi yang terbatas, seperti di wilayah ini yang tercatat memiliki kurang dari 250 pengguna. Karena potensi pasarnya kecil, pemerintah hadir mengintervensi melalui dana USO agar masyarakat tetap mendapatkan akses komunikasi," ujar Darien Aldiano dalam keterangan resminya pada Minggu, 14 Juni 2026.

Lebih lanjut, Darien Aldiano menjelaskan bahwa BTS di Bohesilian ini masih mengandalkan koneksi satelit sebagai tulang punggung teknisnya. Hal ini berbeda dengan layanan fiber optik yang ditawarkan oleh investor reguler, yang kecepatannya berkisar antara 30 hingga 100 Mbps.

Keterbatasan kapasitas satelit menjadi batasan penting dalam pengembangan layanan ini, mengingat tingginya beban biaya operasional (Opex) yang harus ditanggung. Oleh karena itu, layanan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dasar masyarakat saja.

Pendanaan proyek infrastruktur vital ini bersumber dari Dana USO, yang dikumpulkan oleh BAKTI dari kontribusi seluruh operator seluler yang beroperasi di Indonesia. Kontribusi ini berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 1,25% dari pendapatan tahunan masing-masing operator, seperti Telkom dan Telkomsel.

Mekanisme pengumpulan dana USO ini bukanlah hal baru dalam sejarah telekomunikasi Indonesia. Mekanisme serupa telah diterapkan sejak periode 2006–2007, ketika BAKTI masih dikenal dengan nama BPPTI (Badan Penyedia dan Pengelola Pendanaan Telekomunikasi dan Informatika).