HOTNEWS.ID - PT Sumber Global Energy Tbk. (SGER) mengumumkan rencana ambisius untuk kembali menghimpun dana melalui penerbitan surat utang baru. Langkah ini diambil setelah perseroan berhasil melunasi Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 Seri B senilai Rp92 miliar yang dijadwalkan jatuh tempo pada 10 Juli 2026.
"SGER atau anak usaha SMGA akan menerbitkan kembali bonds untuk membiayai modal kerja," demikian disampaikan oleh Direktur Utama SGER, Welly Thomas, dalam keterangan resminya pada Rabu, 15 Juli 2026.
Tujuan utama dari penerbitan obligasi baru ini adalah untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan serta anak usahanya, PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk. (SMGA).
Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan untuk mendukung ekspansi bisnis SGER, baik yang berfokus pada sektor batu bara maupun diversifikasi ke sektor non-batu bara. Hal ini menunjukkan strategi perusahaan untuk terus bertumbuh dan memperluas jangkauan operasionalnya.
Sebelumnya, SGER telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 dengan nilai pokok maksimal mencapai Rp500 miliar. Penerbitan ini merupakan bagian dari program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I yang menargetkan total penghimpunan dana hingga Rp1 triliun.
Dari total dana yang dihimpun dari penerbitan obligasi sebelumnya, sekitar 25% dialokasikan untuk pelunasan utang, sementara 75% sisanya dimanfaatkan sebagai modal kerja.
Dikutip dari Bisnis.com, laporan keuangan SGER pada kuartal I/2026 mencatat pendapatan sebesar Rp2,5 triliun, menunjukkan peningkatan tipis sebesar 1,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Dominasi pendapatan masih berasal dari sektor batu bara, menyumbang sekitar Rp1,75 triliun atau 70% dari total pendapatan. Namun, SGER terus berupaya mendiversifikasi sumber pendapatannya.
Perusahaan juga mencatat kontribusi signifikan dari komoditas lain hingga Maret 2026, termasuk penjualan kokas minyak bumi (petroleum coke) senilai Rp441 miliar, penjualan nikel Rp138,74 miliar, penjualan pasir dan kapur Rp18,73 miliar, serta produk kelapa sawit senilai Rp1,27 miliar.