HOTNEWS.ID - Eastspring Investments Indonesia memperkirakan laba emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus mencatatkan pertumbuhan hingga akhir tahun 2026. Namun, laju pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan diperkirakan bergerak terbatas pada kisaran satu digit.

Fenomena pertumbuhan laba yang terbatas ini terjadi meskipun para emiten di Tanah Air tengah menghadapi tekanan suku bunga yang tinggi serta dinamika harga energi yang berfluktuasi. Perkembangan laporan keuangan pada periode mendatang akan menjadi indikator krusial untuk mengkonfirmasi tren ini.

"Secara umum, kami masih memperkirakan laba emiten pada 2026 tetap bertumbuh, meskipun kemungkinan dalam kisaran single-digit growth," ujar Liew Kong Qian, Direktur Eastspring Indonesia. Ia menambahkan bahwa visibilitas pasar saat ini masih terbatas, sehingga laporan keuangan kuartal II dan III akan menjadi acuan penting.

Eastspring Indonesia mengidentifikasi sektor komoditas dan telekomunikasi memiliki keunggulan komparatif. Sektor komoditas diproyeksikan diuntungkan oleh rata-rata harga pasar yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, sektor telekomunikasi dinilai mampu menawarkan profil pendapatan yang relatif lebih stabil. Hal ini menjadikannya pilihan menarik di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sektor consumer staples juga masuk dalam kategori defensif. Sektor ini diharapkan mendapat topangan dari stimulus pemerintah yang dapat menjaga kekuatan daya beli masyarakat.

Sebaliknya, sektor perbankan diprediksi masih menghadapi tantangan operasional. Tantangan utama datang dari kenaikan biaya dana (cost of fund) akibat persaingan ketat dalam penghimpunan dana pihak ketiga dan tingkat suku bunga yang masih tinggi.

"Ke depan, salah satu faktor yang perlu terus dicermati adalah perkembangan harga minyak. Pergerakan harga energi akan memengaruhi biaya input bagi banyak emiten," jelas Liew Kong Qian. Dampaknya dapat terasa pada margin keuntungan, terutama bagi sektor dengan konsumsi energi atau bahan baku yang tinggi.

Menyikapi kondisi pasar yang semakin selektif, Eastspring Indonesia mengadopsi pendekatan investasi yang lebih berfokus pada pemilihan saham secara individual dari bawah ke atas (bottom-up stock selection). Strategi ini menitikberatkan pada emiten yang terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan laba secara berkelanjutan.