HOTNEWS.ID - Minat masyarakat Indonesia terhadap sepeda motor listrik menunjukkan peningkatan yang belum signifikan, walaupun pemerintah telah berupaya memberikan berbagai insentif fiskal. Hambatan utama yang dihadapi industri saat ini mencakup isu harga, performa teknologi baterai, dan kemudahan operasional bagi pengguna.

Pengamat otomotif, Bebin Djuana, menyampaikan pandangannya mengenai respons pasar yang dinilai masih cenderung datar terhadap produk motor listrik yang ada saat ini. Menurutnya, stimulus yang diberikan oleh pemerintah dirasa belum cukup kuat untuk mengubah perilaku konsumen dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke listrik.

Dilansir dari Bisnis.com, Bebin menjelaskan situasi terkini di lapangan. "Saya belum melihat greget dari motor listrik. Dari sisi harga masih menjadi kendala awal, sementara insentif pemerintah juga terasa belum mampu menggerakkan pasar," ujar Bebin kepada Bisnis, Jumat (4/7/2026).

Bebin menggarisbawahi bahwa tantangan yang dihadapi motor listrik berbeda secara fundamental dibandingkan dengan mobil listrik. Salah satu persoalan krusial terletak pada teknologi baterai yang belum mampu memenuhi tuntutan mobilitas harian konsumen dengan intensitas penggunaan yang tinggi, seperti para pengemudi ojek daring.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan temuan mengenai kesulitan yang dialami para pekerja transportasi daring yang beralih ke motor listrik. "Dia mengaku memperoleh informasi dari sejumlah pengemudi layanan transportasi daring bahwa mereka harus melakukan penukaran baterai hingga enam kali dalam sehari untuk menunjang aktivitas operasional," jelas Bebin.

Meskipun biaya operasional per kilometer motor listrik diklaim lebih hemat dibandingkan motor konvensional, frekuensi penggantian baterai yang tinggi ini secara signifikan mengurangi aspek kepraktisan dalam penggunaan sehari-hari. Hal ini menjadi pertimbangan besar bagi pengguna yang mengandalkan kendaraan untuk mencari nafkah.

Bebin juga mengkritik kualitas teknologi baterai yang masih dipasarkan di Indonesia saat ini, yang berdampak pada daya jelajah dan umur pakai yang belum kompetitif. Ia menyarankan agar produsen segera mengadopsi teknologi baterai yang lebih mutakhir.

"Menurut Bebin, produsen seharusnya mulai mengadopsi teknologi baterai yang lebih mutakhir dengan daya jelajah minimal sekitar 150 kilometer dalam sekali pengisian daya agar lebih menarik bagi konsumen," tambahnya. Ia optimis bahwa inovasi teknologi telah memungkinkan peningkatan kapasitas baterai tanpa perlu menaikkan bobot atau harga secara drastis.

Selain pembaruan teknologi kendaraan, pengembangan infrastruktur pendukung, seperti stasiun penukaran baterai, tetap menjadi kunci percepatan adopsi. Bebin menilai penempatan titik penukaran baterai di gerai ritel modern adalah langkah strategis karena memiliki jangkauan geografis yang luas di berbagai daerah.